Jakarta|EGINDO.co Rupiah dibuka menguat signifikan terhadap Dolar AS pada pagi ini, menembus level Rp 16.664 per USD atau menguat sekitar 0,44 persen dibandingkan penutupan Jumat lalu yang berada di kisaran Rp 16.738 per USD (+0,07 persen). Penguatan ini terjadi di tengah pelemahan indeks Dolar AS serta sinyal pelemahan inflasi AS yang membuka peluang The Fed melakukan penurunan suku bunga.
Menurut analis pasar uang Lukman Leong, penurunan indeks Dolar pagi ini, yang terpantau melemah hampir 0,15 persen ke level 98, menjadi sentimen positif bagi Rupiah. Lukman menyebut bahwa rilis data inflasi AS yang berada sesuai ekspektasi telah menghadirkan ruang bagi The Fed untuk mempertimbangkan penurunan suku bunga. Dia memperkirakan Rupiah hari ini akan bergerak dalam rentang Rp 16.650 hingga Rp 16.750 per USD.
Risiko dari Dalam Negeri & Respons Bank Indonesia
Meski penguatan jangka pendek terlihat menjanjikan, ekonom dari Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menyatakan bahwa tekanan terhadap Rupiah masih berpeluang muncul apabila kebijakan ekonomi terus menunjukkan inkonsistensi. Menurut Rully, beberapa kebijakan yang cenderung “pro-pertumbuhan” tanpa cukup memperhatikan aspek kehati-hatian berpotensi melemahkan kepercayaan pasar terhadap Rupiah dalam jangka menengah. Ia menyoroti bahwa penurunan suku bunga yang dianggap terlalu agresif bisa menjadi beban bagi stabilitas nilai tukar.
Mengenai intervensi dan upaya stabilisasi nilai tukar, Bank Indonesia (BI) memastikan bahwa otoritas moneter akan menggunakan seluruh instrumen yang tersedia, baik secara domestik maupun melalui pasar luar negeri. Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyatakan bahwa BI “secara berani menggunakan semua instrumen yang tersedia, baik di pasar domestik melalui instrumen spot, NDF domestik, dan pembelian SBN di pasar sekunder, maupun di pasar luar negeri melalui intervensi NDF.”
Direktur Pengelolaan Moneter dan Surat Berharga BI, Fitra Jusdian, juga menyebut bahwa intervensi dilakukan secara agresif di berbagai lini pasar — termasuk pasar spot, DNDF (Domestic Non-Deliverable Forward), pasar obligasi pemerintah, dan pasar NDF luar negeri — sebagai upaya menjaga likuiditas dan meredam volatilitas nilai tukar.
Langkah intervensi ini dinilai sudah memberi dukungan bagi penguatan tipis Rupiah di akhir pekan lalu, ketika BI berupaya menahan pelemahan lebih jauh. Namun, beberapa kebijakan di sektor perbankan valas seperti rencana kenaikan suku bunga simpanan valas oleh bank-bank pelat merah hingga 4% — sempat memicu kegaduhan pasar dan akhirnya dibatalkan karena dinilai mendorong aksi beli dolar.
Sumber: rri.co.id/Sn