Rupiah Menguat, Namun Pergerakannya Diperkirakan Masih Berfluktuasi

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Mata uang rupiah berhasil mencatat penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan Senin (1/6/2026). Rupiah ditutup naik 76 poin ke level Rp17.805 per dolar AS setelah sebelumnya berada di posisi Rp17.881 per dolar AS.

Meski mengakhiri perdagangan di zona hijau, pelaku pasar menilai pergerakan rupiah pada Selasa (2/6/2026) berpotensi berlangsung dinamis dan bergerak naik-turun seiring berbagai sentimen global yang masih memengaruhi pasar keuangan. Rupiah diperkirakan berada pada rentang Rp17.800 hingga Rp17.850 per dolar AS.

Dari faktor eksternal, perhatian investor masih tertuju pada perkembangan hubungan antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan kemajuan berarti terkait upaya mencapai kesepakatan damai jangka panjang. Ketidakpastian tersebut diperparah oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz, salah satu rute terpenting bagi distribusi minyak dunia.

Selain itu, meningkatnya tensi geopolitik di Timur Tengah turut mendorong kenaikan harga minyak global. Kondisi ini memunculkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi dapat kembali meningkat dan berpotensi memengaruhi langkah kebijakan moneter yang akan diambil bank sentral AS, Federal Reserve.

Pasar juga masih menantikan sejumlah petunjuk dari pejabat Federal Reserve serta data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dinilai dapat memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah suku bunga dalam beberapa waktu ke depan.

Sementara itu, dari dalam negeri, sentimen positif datang dari mulai diberlakukannya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 21 Tahun 2026 mengenai Devisa Hasil Ekspor (DHE) sumber daya alam. Regulasi tersebut mewajibkan eksportir untuk menempatkan hasil devisa ekspornya di perbankan nasional dalam jangka waktu tertentu.

Kebijakan ini diharapkan dapat meningkatkan pasokan valuta asing di pasar domestik, memperkuat ketahanan sektor keuangan nasional, serta membantu menjaga kestabilan nilai tukar rupiah di tengah tingginya ketidakpastian ekonomi global.

Sejumlah media ekonomi nasional seperti Okezone Economy dan IDX Channel juga menilai bahwa kombinasi faktor geopolitik internasional serta implementasi aturan DHE akan menjadi faktor utama yang memengaruhi arah pergerakan rupiah dalam jangka pendek. Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diperkirakan tetap bersikap waspada sambil mencermati perkembangan ekonomi dan politik global. (Sn)

Scroll to Top