Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan performa positif di awal perdagangan Selasa (3/2/2026). Mata uang Garuda dibuka menguat di level Rp16.765 per dolar AS, seiring melemahnya dolar Amerika Serikat di pasar global.
Penguatan rupiah terjadi di tengah penurunan indeks dolar AS (DXY) yang tertekan oleh ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve. Pelaku pasar global menilai bank sentral AS akan lebih berhati-hati dalam menjaga suku bunga, terutama setelah sejumlah data ekonomi menunjukkan perlambatan inflasi dan aktivitas manufaktur.
Sejalan dengan rupiah, mayoritas mata uang Asia juga bergerak di zona hijau. Yen Jepang, won Korea Selatan, hingga dolar Singapura tercatat menguat terhadap dolar AS. Menurut laporan Reuters, pelemahan greenback dipicu oleh meningkatnya minat investor terhadap aset berisiko di kawasan Asia, didorong oleh stabilitas ekonomi regional.
Dari dalam negeri, sentimen positif turut datang dari data inflasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada Januari 2026 sebesar 3,55 persen secara tahunan (year on year/yoy). Angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran Bank Indonesia dan mencerminkan tekanan harga yang relatif terkendali.
Analis pasar menilai stabilnya inflasi memberikan ruang bagi Bank Indonesia untuk tetap menjaga kebijakan moneter yang pro-stabilitas tanpa harus bersikap terlalu agresif. Bloomberg menyoroti bahwa kombinasi inflasi yang terkendali dan arus modal asing yang kembali masuk menjadi faktor pendukung penguatan rupiah dalam jangka pendek.
Meski demikian, pelaku pasar tetap diminta waspada terhadap dinamika global, khususnya perkembangan geopolitik dan rilis data ekonomi utama dari Amerika Serikat, yang berpotensi kembali memengaruhi arah pergerakan nilai tukar. (Sn)