Jakarta|EGINDO.co Rupiah mengawali perdagangan Senin (6/10/2025) dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mengacu data Bloomberg pukul 09.00 WIB, rupiah naik 0,21% ke posisi Rp16.563 per dolar AS. Di saat yang sama, indeks dolar AS juga menguat tipis 0,21% menjadi 98,04.
Di kawasan Asia Pasifik, pergerakan mata uang terpantau bervariasi. Yen Jepang terkoreksi cukup dalam 1,55%, sementara dolar Hong Kong stabil. Dolar Singapura, dolar Taiwan, won Korea Selatan, peso Filipina, rupee India, baht Thailand, dan ringgit Malaysia kompak melemah dengan kisaran 0,09% hingga 0,35%. Sebaliknya, yuan China justru bergerak sedikit menguat 0,01%.
Tekanan terhadap dolar AS pada akhir pekan lalu disebabkan oleh penutupan sebagian pemerintahan AS yang memicu tertundanya rilis data penting, termasuk laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls (NFP) September. Kondisi ini membuat pelaku pasar menilai prospek ekonomi AS menjadi lebih rapuh. Analis Macquarie dan UBS menilai situasi ini menambah ketidakpastian sekaligus menjaga pasar tetap dalam volatilitas rendah.
Dari sisi kebijakan moneter, ekspektasi pasar kini tertuju pada keputusan The Federal Reserve. Investor memperhitungkan pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin hampir pasti terjadi pada pertemuan Oktober mendatang. Secara keseluruhan, proyeksi pasar berjangka memperkirakan penurunan sekitar 47 basis poin hingga akhir tahun, setara hampir dua kali pemangkasan. Gubernur The Fed Stephen Miran menilai perlambatan pasar tenaga kerja menjadi alasan kuat untuk melakukan langkah lebih agresif.
Sementara itu, CNBC International melaporkan pekan lalu bahwa harga minyak dunia mengalami tekanan setelah sempat reli panjang. Hal ini turut memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, karena dapat berdampak pada biaya impor energi. Selain itu, Nikkei Asia mencatat investor di kawasan Asia semakin berhati-hati menghadapi ketidakpastian global, mulai dari perlambatan ekonomi Tiongkok hingga tensi geopolitik, yang berpotensi memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang.
Sumber: Bisnis.com/Sn