Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan tipis pada perdagangan awal pekan. Berdasarkan pembaruan Kurs Transaksi Bank Indonesia (BI) per Selasa, 10 Februari 2026, mata uang Garuda tercatat berada di level Rp16.922,19 per dolar AS untuk kurs jual dan Rp16.753,81 per dolar AS untuk kurs beli.
Pergerakan tersebut mencerminkan tekanan eksternal yang masih membayangi pasar keuangan domestik, terutama seiring penguatan dolar AS di pasar global. Sejumlah analis pasar uang menilai tingginya ekspektasi suku bunga Amerika Serikat yang bertahan lebih lama menjadi salah satu pemicu utama apresiasi greenback terhadap mayoritas mata uang dunia.
Sejalan dengan itu, laporan sejumlah media ekonomi nasional seperti Bisnis Indonesia dan Kontan juga kerap menyoroti bahwa fluktuasi rupiah belakangan sangat dipengaruhi dinamika imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS serta arah kebijakan moneter The Federal Reserve yang masih ketat. Kondisi tersebut membuat permintaan dolar meningkat dan memberi tekanan pada mata uang emerging markets, termasuk rupiah.
Di sisi lain, pelaku pasar turut mencermati aliran modal asing (capital flow) ke pasar keuangan domestik. Ketika sentimen global cenderung risk-off, arus dana keluar berpotensi meningkat sehingga menahan penguatan rupiah dalam jangka pendek.
Bank Indonesia sendiri menegaskan komitmennya menjaga stabilitas nilai tukar melalui bauran kebijakan moneter, intervensi terukur di pasar valas, serta optimalisasi instrumen operasi moneter pro-market. Langkah ini ditempuh guna memastikan volatilitas rupiah tetap terkendali dan sejalan dengan fundamental ekonomi nasional.
Dari dalam negeri, faktor penopang seperti inflasi yang relatif terjaga, prospek pertumbuhan ekonomi yang solid, serta kinerja neraca perdagangan yang masih mencatat surplus menjadi bantalan penting bagi ketahanan rupiah agar pelemahan tidak berlanjut lebih dalam.
Analis memproyeksikan, dalam jangka pendek rupiah masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan dipengaruhi sentimen global, terutama arah suku bunga bank sentral utama dan perkembangan geopolitik.
Dengan perkembangan terbaru ini, pelaku usaha dan investor diimbau terus mencermati pergerakan kurs, mengingat volatilitas nilai tukar berpotensi memengaruhi biaya impor, pembayaran kewajiban valas, hingga strategi lindung nilai (hedging) korporasi.