Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) kembali menunjukkan tekanan pada perdagangan terkini. Berdasarkan pembaruan transaksi oleh Bank Indonesia per 18 Februari 2026, kurs referensi mencatat posisi jual USD di level Rp16.928,22 dan kurs beli di Rp16.759,78 per dolar AS.
Pergerakan ini mencerminkan pelemahan rupiah yang masih dipengaruhi dinamika eksternal, terutama penguatan dolar AS di pasar global serta ketidakpastian arah suku bunga negara maju.
Sejumlah faktor yang menopang penguatan dolar AS antara lain:
-
Ekspektasi suku bunga tinggi The Fed lebih lama (higher for longer).
-
Ketahanan ekonomi AS yang masih solid.
-
Arus modal global yang cenderung kembali ke aset safe haven.
Kondisi tersebut menekan mata uang emerging markets, termasuk rupiah, terutama di tengah volatilitas pasar keuangan global dan fluktuasi harga komoditas.
Meski mengalami tekanan, stabilitas rupiah dinilai masih relatif terjaga. Otoritas moneter terus melakukan langkah stabilisasi melalui:
-
Intervensi di pasar valas.
-
Optimalisasi instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
-
Penguatan koordinasi dengan pemerintah menjaga fundamental ekonomi.
Analis memperkirakan pergerakan rupiah dalam jangka pendek masih akan dipengaruhi sentimen global, khususnya:
-
Arah kebijakan suku bunga AS.
-
Perkembangan geopolitik.
-
Arus masuk modal asing ke pasar domestik.
Namun demikian, fundamental Indonesia yang solid—ditopang inflasi terkendali, surplus neraca dagang, serta pertumbuhan ekonomi stabil—menjadi faktor penopang agar pelemahan rupiah tetap terbatas.
Posisi Kurs Transaksi BI (18 Februari 2026):
-
Kurs Jual USD: Rp16.928,22
-
Kurs Beli USD: Rp16.759,78
Pembaruan kurs ini menjadi acuan penting bagi pelaku usaha, perbankan, dan investor dalam memantau risiko nilai tukar serta merencanakan aktivitas transaksi valas. (Sn)