Rupiah Melemah ke Rp17.885 per Dolar AS, Tekanan Geopolitik dan Kenaikan Harga Impor Bayangi Daya Beli Masyarakat

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan hari ini. Mata uang Garuda dibuka melemah hingga menyentuh level Rp17.885 per dolar Amerika Serikat (AS), turun sekitar 80,5 poin dibandingkan posisi sebelumnya. Pelemahan tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap meningkatnya biaya impor dan potensi penurunan daya beli masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah dan menengah.

Melemahnya kurs rupiah berpotensi memicu kenaikan harga berbagai komoditas yang masih bergantung pada impor, mulai dari kedelai, jagung, bahan baku industri, hingga pupuk. Kondisi tersebut dapat berdampak pada kenaikan harga sejumlah kebutuhan pokok dan menambah tekanan inflasi domestik dalam beberapa waktu ke depan.

Pengamat Ekonomi, Pasar Uang, dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan pelemahan rupiah saat ini tidak terlepas dari meningkatnya ketidakpastian global, khususnya akibat memanasnya kembali situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, eskalasi konflik tersebut mendorong investor global beralih ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

“Hari ini rupiah dibuka melemah di Rp17.885. Salah satu pemicunya adalah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang kembali memperkuat sentimen terhadap dolar AS,” ujar Ibrahim, Selasa (2/6/2026).

Selain faktor geopolitik, pasar juga mencermati risiko terganggunya pasokan energi global. Ketidakpastian di kawasan Timur Tengah, khususnya terkait jalur perdagangan minyak dunia, membuat pelaku pasar khawatir terhadap potensi kenaikan harga energi yang dapat memperburuk tekanan terhadap negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia.

Media ekonomi Investor Daily melaporkan bahwa ketegangan di Timur Tengah menjadi salah satu sentimen utama yang menekan rupiah dalam beberapa pekan terakhir. Sementara itu, Liputan6.com mencatat bahwa pelemahan rupiah terjadi meski indeks dolar AS tidak menunjukkan penguatan yang signifikan, menandakan adanya kombinasi faktor eksternal dan domestik yang memengaruhi pergerakan mata uang nasional.

Di sisi lain, pelemahan rupiah dapat meningkatkan biaya produksi bagi industri yang menggunakan bahan baku impor. Jika kondisi ini berlangsung dalam jangka panjang, pelaku usaha berpotensi melakukan penyesuaian harga jual yang pada akhirnya berdampak pada konsumen.

Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan dari Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan meredam volatilitas pasar keuangan. Upaya intervensi di pasar valuta asing serta koordinasi dengan pemerintah dinilai akan menjadi faktor penting untuk menahan tekanan terhadap rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.

Sejumlah analis memperkirakan pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan masih akan dipengaruhi perkembangan konflik Timur Tengah, arah kebijakan moneter Amerika Serikat, serta sentimen investor terhadap pasar negara berkembang. Apabila tekanan eksternal terus berlanjut, rupiah berpotensi tetap bergerak di kisaran level terlemahnya sepanjang tahun 2026. (Sn)

Scroll to Top