Jakarta|EGINDO.co Badan Pangan Nasional menegaskan harga beras program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) tidak mengalami perubahan meskipun nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat terus berada dalam tekanan.
Pada perdagangan Selasa (26/5/2026), kurs rupiah dibuka di level Rp17.747 per dolar AS, melemah dibanding penutupan sehari sebelumnya di posisi Rp17.744 per dolar AS. Kondisi pelemahan mata uang domestik tersebut dinilai berpotensi memengaruhi sejumlah sektor, termasuk pangan. Namun pemerintah memastikan program beras SPHP tetap berjalan normal.
Direktur SPHP Bapanas, Maino Dwi Hartono, mengatakan hingga saat ini tidak ada rencana penyesuaian harga jual beras SPHP kepada masyarakat. Pemerintah juga memastikan mutu beras yang disalurkan tetap sama, yakni kategori beras medium dengan harga terjangkau.
“Perubahan nilai tukar memang bisa berdampak pada berbagai sektor. Tetapi untuk program SPHP, pemerintah memastikan harga jual maupun kualitas beras tetap dipertahankan,” ujar Maino dalam keterangannya, Selasa (26/5/2026).
Saat ini, harga eceran tertinggi beras SPHP di wilayah Jawa, Lampung, Sumatera Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Sulawesi dipatok Rp12.500 per kilogram. Sementara untuk wilayah Sumatera selain Lampung dan Sumatera Selatan, Nusa Tenggara Timur, serta Kalimantan dibanderol Rp13.100 per kilogram. Adapun Maluku dan Papua memiliki harga maksimal Rp13.500 per kilogram.
Pemerintah turut mengalokasikan anggaran SPHP tahun 2026 sebesar Rp4,97 triliun. Dana tersebut digunakan untuk mendukung subsidi penjualan sekitar 828 ribu ton beras bagi masyarakat guna menjaga stabilitas harga pangan nasional.
Selain menjaga harga tetap stabil, Bapanas juga memperluas akses pembelian beras SPHP. Konsumen kini diperbolehkan membeli hingga lima kemasan ukuran 5 kilogram atau total 25 kilogram, serta dua kemasan ukuran 2 kilogram. Kebijakan ini ditujukan untuk membantu pelaku usaha kecil seperti pedagang nasi goreng, warung makan, hingga usaha kuliner rumahan memperoleh pasokan beras dengan lebih mudah.
Di sisi lain, batas transaksi bagi mitra Perum Bulog juga ditingkatkan dari sebelumnya maksimal 2 ton menjadi 5 ton agar distribusi dan ketersediaan stok beras SPHP di pasar tetap terjaga.
Sejumlah media nasional seperti Bisnis Indonesia dan CNBC Indonesia turut menyoroti langkah pemerintah menjaga stabilitas harga pangan di tengah tekanan nilai tukar dan ketidakpastian ekonomi global. (Sn)