Jakarta|EGINDO.co Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Senin (25/5/2026). Mata uang Garuda diproyeksikan bergerak fluktuatif di rentang Rp17.650 hingga Rp17.800 per dolar AS seiring meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap kondisi eksternal Indonesia dan ketidakpastian global.
Berdasarkan data perdagangan akhir pekan lalu, rupiah ditutup melemah ke level Rp17.700 per dolar AS. Tekanan terhadap rupiah terjadi bersamaan dengan pelemahan mayoritas mata uang di kawasan Asia, seperti yen Jepang, dolar Singapura, won Korea Selatan, ringgit Malaysia, hingga baht Thailand.
Analis pasar keuangan menilai pelemahan rupiah dipengaruhi memburuknya neraca transaksi berjalan Indonesia yang tercatat mengalami defisit lebih besar dibandingkan perkiraan pasar. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran investor terhadap ketahanan sektor eksternal nasional, sehingga mendorong perpindahan dana ke aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
Selain faktor domestik, sentimen global juga masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali memicu sikap hati-hati investor, terutama setelah muncul perkembangan terbaru terkait respons Iran terhadap proposal Amerika Serikat. Situasi itu dinilai berpotensi meningkatkan volatilitas pasar keuangan dunia dan memperkuat posisi dolar AS terhadap mata uang emerging markets.
Media internasional seperti reuters. dan bloomberg. juga melaporkan bahwa penguatan dolar AS belakangan didorong meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah ketidakpastian ekonomi global dan tensi geopolitik yang belum mereda.
Di sisi lain, tekanan terhadap rupiah turut diperparah oleh melemahnya pasar saham domestik dalam beberapa hari terakhir. Investor asing masih cenderung menunggu kepastian arah kebijakan ekonomi global, termasuk perkembangan suku bunga Amerika Serikat dan stabilitas kawasan geopolitik.
Pelaku pasar kini menantikan langkah lanjutan pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi. Jika sentimen global belum membaik, rupiah diperkirakan masih sulit keluar dari tekanan dalam jangka pendek. (Sn)