Rupiah Masih Tertekan, Analis Prediksi Bergerak di Level Rp17.200–Rp17.500 per Dolar AS

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan sepanjang perdagangan pekan ini. Sejumlah analis memandang mata uang Garuda berpotensi bergerak di kisaran Rp17.200 hingga Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS) seiring kuatnya sentimen eksternal dan meningkatnya kekhawatiran pasar global.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pergerakan rupiah masih cenderung fluktuatif akibat tingginya ketidakpastian ekonomi dunia. Menurut dia, eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang mendorong investor memilih aset aman seperti dolar AS.

“Perdagangan hari ini menunjukkan rupiah bergerak tidak stabil dan akhirnya ditutup melemah di kisaran Rp17.390 sampai Rp17.440 per dolar AS,” ujar Ibrahim dalam keterangannya, Selasa (5/5/2026).

Selain faktor geopolitik, penguatan indeks dolar AS juga menjadi tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Sikap bank sentral AS atau The Federal Reserve yang masih mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi membuat arus modal asing cenderung keluar dari pasar emerging market.

Kenaikan harga minyak dunia turut memperbesar beban terhadap rupiah. Kondisi tersebut dinilai dapat meningkatkan kebutuhan impor energi Indonesia dan berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan apabila berlangsung dalam waktu lama.

Dari dalam negeri, pelaku pasar juga menyoroti besarnya kebutuhan subsidi energi dan meningkatnya tekanan fiskal pemerintah. Kondisi ini diperparah dengan masih terjadinya capital outflow atau arus dana asing keluar dari pasar keuangan domestik.

Sementara itu, laporan Bloomberg menyebut mata uang di kawasan Asia masih menghadapi tekanan akibat meningkatnya permintaan terhadap dolar AS setelah imbal hasil obligasi Amerika kembali naik. Di sisi lain, Reuters melaporkan harga minyak mentah dunia bertahan di level tinggi karena pasar mengkhawatirkan gangguan pasokan akibat tensi geopolitik Timur Tengah.

Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan intervensi di pasar valuta asing guna menjaga stabilitas rupiah. Langkah stabilisasi tersebut dilakukan melalui pasar spot, Domestic Non Deliverable Forward (DNDF), serta pembelian surat berharga negara di pasar sekunder.

Meski demikian, analis menilai ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek masih cukup terbatas selama sentimen global belum membaik dan dolar AS tetap berada dalam tren penguatan. (Sn)

Scroll to Top