Rupiah Masih Rentan Tertekan, Gejolak Global dan Ancaman PHK Membayangi Ekonomi Nasional

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan awal pekan, Senin (8/6/2026), meskipun sempat mencatat penguatan pada akhir pekan sebelumnya. Pelaku pasar menilai pergerakan mata uang Garuda masih dibayangi kombinasi faktor eksternal dan domestik yang memengaruhi sentimen investor.

Pada penutupan perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah menguat sekitar 0,19% dan berada di level Rp18.012 per dolar AS. Namun secara kumulatif sejak awal tahun, mata uang Indonesia masih mengalami depresiasi sekitar 8%, menunjukkan tekanan yang belum sepenuhnya mereda.

Dari sisi global, perhatian pasar tertuju pada perkembangan konflik di kawasan Timur Tengah, khususnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran. Ketidakpastian terkait upaya perdamaian kedua negara kembali memicu kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasokan energi dunia. Kondisi tersebut turut memengaruhi pergerakan harga minyak dan meningkatkan kecenderungan pelaku pasar untuk mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.

Selain faktor eksternal, tantangan domestik juga menjadi perhatian. Meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di sejumlah sektor manufaktur dinilai berpotensi menekan daya beli masyarakat dan memperlambat aktivitas ekonomi. Industri elektronik, otomotif, tekstil, garmen, serta alas kaki menjadi sektor yang paling banyak menghadapi tekanan akibat melemahnya permintaan dan meningkatnya biaya produksi.

Data Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan lebih dari 15 ribu pekerja terdampak PHK selama periode Januari hingga April 2026. Sejumlah pengamat memperkirakan angka tersebut masih berpotensi bertambah dalam beberapa bulan mendatang apabila kondisi ekonomi global belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.

Sementara itu, laporan terbaru dari  menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi salah satu fokus utama kebijakan moneter di tengah tingginya volatilitas pasar keuangan global. Di sisi lain,  dalam sejumlah kajiannya juga mengingatkan bahwa negara berkembang menghadapi risiko tekanan nilai tukar yang lebih besar ketika ketidakpastian geopolitik dan ekonomi dunia meningkat.

Dengan berbagai sentimen tersebut, pergerakan rupiah dalam jangka pendek diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah, seiring investor terus mencermati perkembangan geopolitik global dan kondisi ekonomi domestik. (Sn)

Scroll to Top