Rupiah Masih Berisiko Melemah karena Tekanan Dolar AS

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah masih berisiko melemah akhir pekan ini, karena tekanan dolar AS. Rupiah melemah 27 poin (0,17 persen) menjadi Rp15.719 per dolar AS, pada penutupan perdagangan Kamis pekan ini.

“Rupiah masih berpeluang melemah terhadap dolar AS hari ini. Salah satu pemicunya adalah data indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi inti (Core PCE Price Index) Amerika Serikat,” kata Analis Pasar Uang Ariston Tjendra, Jumat (1/3/2024).

​Core PCE Price Index bulan Januari dirilis semalam 2,8 persen, lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 2,9 persen. Namun, kata Ariston, indeks dolar AS malah menguat ke kisaran 104, yang menyebabkan rupiah tertekan.

Faktor eksternal lainnya yang menyebabkan nilai tukar rupiah tertekan adalah data Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur  Tiongkok. Data yang dirilis pagi ini menunjukkan PMI manufaktur Tiongkok masih di level kontraksi di 49,1.

Baca Juga :  Eka Tjipta Foundation Dukung Revitalisasi 10 SMK di Jateng

“Artinya belum ada pemulihan berarti pada sektor manufaktur Tiongkok. Padahal sektor manufaktur  menjadi penggerak perekonomian negara-negara mitra dagang Tiongkok, di antaranya Indonesia,” ujar Ariston.

Ariston menilai, kenaikan harga pangan di dalam negeri juga bisa memberikan sentimen negatif ke rupiah. Naiknya inflasi akibat kenaikan harga pangan bisa menurunkan daya beli masyarakat dan mengganggu pertumbuhan ekonomi.

“Di sisi lain, inflasi AS yang menurun mengonfirmasi peluang pemangkasan suku bunga The Fed, semester kedua tahun ini. Jadi ekspektasi pasar inilah yang bisa  menahan penguatan dolar AS,” ucap Ariston.

Ia memperkirakan, potensi rupiah hari ini ke arah Rp15.750. Sedangkan  potensi support di sekitar Rp15.690-Rp15.700 per dolar AS.

Baca Juga :  China Batasi Perjalanan Ke Luar Negeri Untuk Cegah Covid-19

Sumber: rri.co.id/Sn

Bagikan :