Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah diperkirakan masih menghadapi tekanan pada perdagangan Rabu (13/5/2026) setelah sehari sebelumnya ditutup melemah hingga menembus level Rp17.500 per dolar AS. Berdasarkan data RTI Infokom, rupiah berada di posisi Rp17.529 per dolar AS atau turun 115 poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi seiring penguatan indeks dolar AS yang naik ke level 98,25.
Tekanan terhadap mata uang Garuda dipicu kombinasi sentimen global dan domestik. Dari eksternal, pasar masih dibayangi kebijakan suku bunga tinggi bank sentral Amerika Serikat atau The Fed, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, serta lonjakan harga minyak dunia yang meningkatkan permintaan terhadap aset safe haven berbasis dolar AS. Reuters juga melaporkan bahwa mata uang negara berkembang Asia, termasuk rupiah, mengalami tekanan akibat meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap konflik global dan inflasi Amerika Serikat yang masih tinggi.
Sementara itu, dari dalam negeri, investor asing masih mencermati kondisi pasar keuangan Indonesia, termasuk isu transparansi pasar modal dan arus modal keluar yang dinilai meningkatkan kehati-hatian terhadap aset domestik. Kekhawatiran terhadap kapasitas fiskal pemerintah serta meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri korporasi juga turut memperbesar tekanan pada rupiah.
Pelemahan nilai tukar diperkirakan berdampak pada meningkatnya biaya impor bahan baku, energi, dan barang konsumsi sehingga berpotensi mendorong inflasi impor. Selain itu, beban subsidi energi pemerintah dan kewajiban utang valas korporasi diperkirakan ikut meningkat apabila kurs rupiah terus terdepresiasi. Meski demikian, kondisi ini dinilai dapat memberikan keuntungan terbatas bagi sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar global.
Bank Indonesia diperkirakan akan terus melakukan langkah stabilisasi melalui intervensi pasar valuta asing dan penguatan instrumen moneter guna menjaga stabilitas rupiah di tengah tingginya volatilitas pasar global. (Sn)