Rupiah Diproyeksikan Masih Tertekan, Pasar Cermati Arah Kebijakan The Fed

Ilustrasi
Ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Pergerakan nilai tukar rupiah diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Kamis (25/6/2026). Sejumlah analis memperkirakan mata uang Garuda akan mengakhiri perdagangan di kisaran Rp17.950 hingga Rp18.020 per dolar AS, setelah pada Rabu (24/6/2026) ditutup melemah ke level Rp17.952 per dolar AS.

Prediksi tersebut mencerminkan masih kuatnya sentimen eksternal yang memengaruhi pasar keuangan global. Investor saat ini tengah mencermati arah kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat (The Fed), yang diperkirakan masih mempertahankan sikap ketat untuk mengendalikan inflasi. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS dan memberikan tekanan terhadap sejumlah mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Selain faktor suku bunga, perkembangan situasi geopolitik juga menjadi perhatian pasar. Ketidakpastian terkait hubungan Amerika Serikat dan Iran masih membayangi sentimen investor meskipun terdapat tanda-tanda meredanya ketegangan. Situasi tersebut membuat pelaku pasar cenderung berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi.

Di sisi lain, sejumlah sentimen positif dari dalam negeri dinilai dapat membantu membatasi pelemahan rupiah. Salah satunya adalah keputusan MSCI yang menunda evaluasi aksesibilitas pasar Indonesia hingga November 2026. Kebijakan itu memberikan waktu tambahan bagi Indonesia untuk melanjutkan berbagai reformasi pasar keuangan guna meningkatkan daya tarik investasi.

Pemerintah juga telah menyiapkan paket stimulus ekonomi senilai Rp26,34 triliun yang ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi nasional di tengah tantangan global. Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat fondasi ekonomi domestik dan menjaga kepercayaan investor terhadap pasar Indonesia.

Mengacu pada laporan Reuters, penundaan penilaian MSCI dipandang sebagai peluang bagi Indonesia untuk mempercepat pembenahan pasar modal. Sementara itu, Bloomberg Technoz melaporkan bahwa rupiah di pasar offshore sempat bergerak mendekati level Rp18.000 per dolar AS, menunjukkan tekanan terhadap mata uang domestik masih cukup tinggi.

Para pelaku pasar kini menantikan perkembangan terbaru terkait kebijakan The Fed, kondisi geopolitik global, serta implementasi stimulus pemerintah sebagai faktor yang akan menentukan arah pergerakan rupiah hingga penutupan perdagangan. Jika tekanan eksternal masih berlanjut, rupiah berpotensi bertahan di area pelemahan yang telah diproyeksikan sebelumnya. (Sn)

Scroll to Top