Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan bergerak melemah pada kisaran Rp17.010 hingga Rp17.040 per dolar AS dalam perdagangan Kamis, 9 April 2026. Tekanan eksternal masih membayangi, meskipun sejumlah faktor domestik memberikan bantalan bagi mata uang Garuda.
Dari dalam negeri, kinerja fiskal menunjukkan perbaikan yang cukup solid. Realisasi pendapatan negara hingga 31 Maret 2026 tercatat tumbuh 10,5% secara tahunan (year-on-year). Peningkatan ini mencerminkan aktivitas ekonomi yang tetap terjaga serta optimalisasi penerimaan negara, yang pada gilirannya membantu menjaga stabilitas makroekonomi.
Di sisi global, perkembangan geopolitik turut memberikan pengaruh terhadap pergerakan pasar keuangan. Gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran yang dimediasi Pakistan menjadi sentimen positif yang meredakan kekhawatiran pelaku pasar terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini sempat menahan tekanan lebih dalam terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Sejumlah analis menilai bahwa meskipun ada katalis positif, pergerakan rupiah masih rentan terhadap dinamika eksternal, terutama arah kebijakan suku bunga global dan pergerakan dolar AS yang cenderung menguat.
Mengutip laporan Bloomberg, mata uang di kawasan Asia bergerak variatif dengan kecenderungan melemah seiring meningkatnya permintaan terhadap aset safe haven. Sementara itu, Reuters juga melaporkan bahwa pelaku pasar masih mencermati perkembangan geopolitik serta prospek ekonomi global sebagai faktor utama penggerak pasar valuta asing.
Dengan kombinasi faktor domestik yang relatif kuat dan tekanan eksternal yang belum sepenuhnya mereda, rupiah diperkirakan akan bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah dalam jangka pendek. (Sn)