Jakarta:EGINDO.co Pada sesi awal perdagangan hari ini, Senin (27 Oktober 2025), nilai tukar Rupiah Indonesia dibuka melemah terhadap Dolar AS. Data dari Bloomberg menunjukkan bahwa Rupiah terdepresiasi sebesar 0,10 persen atau sekitar 16 poin, berada di kisaran Rp 16.617 per Dolar AS.
Meskipun demikian, analis pasar uang Lukman Leong menilai bahwa mata uang domestik berpotensi berbalik menguat hingga penutupan perdagangan siang nanti. Menurutnya, kondisi tersebut didorong oleh optimisme pasar terhadap jalannya kembali pembicaraan dagang antara Tiongkok dan AS, serta data inflasi AS yang menunjukkan moderasi.
“Data inflasi AS yang dirilis Jumat lalu menunjukkan perlambatan, sehingga meningkatkan prospek pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve, dan kondisi ini dapat mendukung penguatan Rupiah,” ujar Lukman.
Sentimen positif tersebut tercatat juga dalam pergerakan mata uang Asia lainnya. Seperti dilaporkan oleh Investing.com, sejumlah mata uang Asia menguat karena data inflasi AS yang lebih rendah dari ekspektasi, sehingga mendorong persepsi bahwa Fed akan memangkas suku bunga lebih cepat.
Meski demikian, Lukman memperingatkan bahwa penguatan Rupiah kemungkinan akan terbatas, mengingat pasar masih menunggu hasil pertemuan Komite Pasar Terbuka Fed (FOMC) yang dijadwalkan pekan ini. Ia memproyeksikan bahwa Rupiah hari ini akan bergerak dalam rentang Rp 16.550 hingga Rp 16.650 per Dolar AS.
Selain itu, aksen geopolitik dan perdagangan turut mewarnai sentimen. Kunjungan Presiden AS Donald Trump ke Asia yang dimulai besok, termasuk pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi, serta nanti juga rencana pertemuan dengan Presiden Tiongkok Xi Jinping, turut menjadi perhatian pasar dalam menimbang potensi perbaikan hubungan dagang AS–Tiongkok.
Sumber: rri.co.id/Sn