Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah memulai perdagangan Rabu, 17 Juni 2026, dengan berada di zona merah. Berdasarkan data pasar spot, rupiah dibuka melemah 0,16% ke level Rp17.753 per dolar Amerika Serikat (AS). Sementara itu, indeks dolar AS (US Dollar Index/DXY) juga tercatat turun tipis 0,02% ke posisi 99,52, mencerminkan pelemahan terbatas mata uang AS di pasar global.
Pada perdagangan Rabu, 17 Juni 2026, tekanan terhadap rupiah terutama berasal dari meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar atas rencana pemerintah Amerika Serikat yang akan menerapkan tarif impor tambahan terhadap sejumlah produk dari berbagai negara. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi mengurangi daya saing ekspor Indonesia ke pasar internasional, sehingga memicu sikap hati-hati investor terhadap aset-aset di negara berkembang, termasuk rupiah.
Meski demikian, sentimen positif turut mewarnai perdagangan. Kesepakatan awal antara Amerika Serikat dan Iran yang mengarah pada meredanya ketegangan geopolitik berhasil menekan harga minyak mentah dunia. Kondisi ini meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko dan memberikan sedikit ruang bagi mata uang negara berkembang untuk menahan tekanan yang lebih dalam.
Analis menilai, sentimen positif dari meredanya konflik geopolitik belum cukup kuat untuk mengimbangi kekhawatiran pasar terhadap kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Oleh sebab itu, pergerakan rupiah, diperkirakan masih akan berlangsung fluktuatif seiring pelaku pasar menunggu kepastian mengenai arah kebijakan tarif impor AS serta perkembangan kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.
Selain itu, investor juga akan mencermati sejumlah data ekonomi global yang dijadwalkan rilis pada pekan ini. Perkembangan tersebut diyakini akan menjadi penentu arah pergerakan dolar AS sekaligus memengaruhi arus modal asing ke pasar keuangan Indonesia. Dengan kondisi tersebut, volatilitas nilai tukar rupiah diperkirakan masih akan tetap tinggi sepanjang perdagangan. (Sn)