Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah diprediksi akan menguat terhadap dolar Amerika Serikat pada perdagangan Jumat (17/10/2025), menyusul tekanan terhadap mata uang AS yang makin meningkat. Pada hari Kamis (16/10), rupiah ditutup melemah tipis sebesar 0,03 persen atau lima poin menjadi Rp 16.581 per dolar AS.
Analis pasar uang, Lukman Leong, berpandangan bahwa penguatan rupiah akan didorong oleh sentimen dovish dari pejabat The Fed. Tekanan terhadap dolar AS menurutnya juga berasal dari risiko “shutdown” pemerintahan AS serta ketegangan perdagangan antara AS dan Tiongkok yang kembali meningkat.
“Shutdown pemerintah AS dan konflik dagang dengan Tiongkok turut memperlemah dolar,” ujar Lukman. Ia memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak di kisaran Rp 16.500 hingga Rp 16.600 per dolar AS.
Sementara itu, analis Fikri C. Permana memproyeksikan rupiah bisa naik ke angka Rp 16.520 per dolar AS. Menurut dia, salah satu faktor pemicu adalah data produksi industri Philadelphia bulan Oktober yang menunjukkan kontraksi, menambah kekhawatiran pasar akan perlambatan ekonomi AS. Fikri juga menyebut bahwa ekspektasi penurunan suku bunga The Fed — baik pada Oktober maupun Desember — menjadi pendorong kuat penguatan rupiah.
Di dalam negeri, perlambatan pertumbuhan utang luar negeri Indonesia ikut memperkuat sentimen positif terhadap rupiah. Data menunjukkan bahwa utang luar negeri Indonesia pada Agustus tumbuh hanya sekitar 2 persen, lebih rendah dari bulan-bulan sebelumnya, yang turut meringankan tekanan eksternal.
Menurut laporan ANTARA, penguatan rupiah juga dipengaruhi oleh pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell yang dianggap bernada dovish. Powell menyebut bahwa pasar tenaga kerja AS sedang melemah dan bahwa The Fed akan menentukan kebijakan berdasarkan keseimbangan risiko dan data ekonomi terkini.
Demikian pula, menurut VOI, ekspektasi pasar terhadap pemangkasan suku bunga The Fed kian mendukung kemungkinan apresiasi rupiah.
Sumber: rri.co.id/Sn