Rupiah Berpotensi Melemah Tipis di Tengah Penguatan Dolar AS dan Mata Uang Asia

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, 13 Februari 2026, diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah terbatas. Pelaku pasar masih mencermati dinamika global, terutama pergerakan dolar AS serta respons mata uang kawasan Asia.

Berdasarkan konsensus analis yang dihimpun dari sejumlah sumber, rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.820 hingga Rp16.850 per dolar AS hingga penutupan perdagangan hari ini.

Data pasar yang dirilis Bloomberg menunjukkan bahwa pada perdagangan Kamis (12/2/2026) rupiah ditutup turun 0,25% ke posisi Rp16.828 per dolar AS. Pelemahan tersebut terjadi seiring penguatan tipis indeks dolar AS yang naik 0,01% ke level 96,84, mencerminkan masih solidnya permintaan terhadap greenback.

Di kawasan Asia, mayoritas mata uang justru mencatatkan penguatan terhadap dolar AS. Yen Jepang memimpin penguatan dengan kenaikan 0,23%. Disusul won Korea Selatan yang terapresiasi 0,54% serta peso Filipina yang menguat 0,32%.

Selain itu, beberapa mata uang lain juga menunjukkan kinerja positif, di antaranya:

  • Dolar Taiwan naik 0,08%

  • Yuan China menguat 0,14%

  • Baht Thailand naik 0,14%

  • Ringgit Malaysia terapresiasi 0,12%

  • Rupee India menguat 0,12%

  • Dolar Singapura naik 0,01%

  • Dolar Hong Kong menguat 0,02%

Penguatan mayoritas mata uang Asia ini mengindikasikan adanya aliran modal yang cukup stabil ke pasar regional, meski belum mampu menopang rupiah untuk bergerak di zona hijau.

Sejumlah analis pasar uang menilai tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi sentimen eksternal, terutama ekspektasi kebijakan suku bunga AS serta pergerakan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Selain itu, kebutuhan dolar untuk kepentingan korporasi domestik juga turut memberi tekanan jangka pendek.

Laporan pasar yang juga dikutip oleh Reuters menyoroti bahwa volatilitas mata uang emerging markets, termasuk rupiah, masih akan dipengaruhi rilis data ekonomi global dan arah kebijakan moneter bank sentral utama.

Dengan kombinasi sentimen tersebut, rupiah berpeluang bergerak dua arah sepanjang hari, namun tetap berisiko ditutup melemah tipis apabila penguatan dolar AS berlanjut hingga sesi akhir perdagangan. (Sn)

Scroll to Top