Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026 diperkirakan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS. Meski demikian, mata uang Garuda sebelumnya berhasil mencatat penguatan pada penutupan perdagangan Rabu (20/5/2026) dengan kenaikan sekitar 0,48% ke level Rp17.629 per dolar AS.
Penguatan rupiah terjadi seiring membaiknya pergerakan mayoritas mata uang di kawasan Asia. Sejumlah mata uang seperti yuan China, won Korea Selatan, dan ringgit Malaysia turut mengalami apresiasi terhadap dolar AS, mencerminkan meningkatnya optimisme pelaku pasar di kawasan regional.
Analis pasar menilai penguatan rupiah masih ditopang sentimen positif dari dalam negeri. Kebijakan pemerintah yang melakukan efisiensi anggaran, termasuk penataan ulang sejumlah program belanja negara, dipandang mampu menjaga kredibilitas fiskal Indonesia. Selain itu, keputusan Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin dinilai memperkuat daya tarik aset keuangan domestik di tengah tekanan global dan penguatan indeks dolar AS.
Sejumlah media internasional seperti Reuters dan Bloomberg juga menyoroti langkah agresif bank sentral di berbagai negara berkembang untuk menjaga stabilitas mata uang dan arus modal asing di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Di sisi lain, Prabowo Subianto menargetkan kurs rupiah pada 2027 berada di kisaran Rp16.800 hingga Rp17.500 per dolar AS. Target tersebut disampaikan dalam pemaparan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (20/5/2026). Pemerintah menegaskan akan terus menjaga sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna mempertahankan stabilitas nilai tukar serta memperkuat ketahanan ekonomi nasional. (Sn)