Rupiah Berpotensi Melemah, Pasar Cermati Ketidakpastian Geopolitik dan Data Ekonomi Domestik

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan masih berada dalam tekanan pada perdagangan Rabu (3/6/2026). Pelaku pasar saat ini mencermati perkembangan situasi geopolitik global yang belum menunjukkan kepastian, terutama terkait hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.

Pada perdagangan sebelumnya, Selasa (2/6/2026), rupiah ditutup melemah 34 poin atau sekitar 0,19 persen ke posisi Rp17.839 per dolar AS. Kondisi tersebut terjadi di tengah sikap investor yang cenderung berhati-hati menunggu perkembangan terbaru dari berbagai isu global.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi mengatakan ketidakjelasan arah negosiasi antara Washington dan Teheran menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen pasar. Pernyataan yang berubah-ubah dari Presiden AS, Donald Trump, terkait kelanjutan pembicaraan dengan Iran dinilai menambah ketidakpastian di pasar keuangan internasional.

Selain itu, perkembangan situasi di Timur Tengah juga masih menjadi perhatian investor. Meskipun terdapat kabar mengenai gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel di Lebanon, pasar masih menilai risiko geopolitik kawasan tersebut belum sepenuhnya mereda.

Di sisi domestik, sejumlah indikator ekonomi memberikan sinyal yang relatif positif. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan inflasi tahunan pada Mei 2026 mencapai 3,08 persen. Sementara itu, Indeks Harga Konsumen (IHK) meningkat menjadi 111,40 dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 111,09.

Kinerja sektor manufaktur juga menunjukkan perbaikan. Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia pada Mei 2026 naik ke level 50,0 setelah pada April berada di angka 49,1. Capaian tersebut menandakan aktivitas industri kembali memasuki fase ekspansi setelah sempat mengalami kontraksi.

Meski demikian, sejumlah tantangan masih membayangi sektor industri nasional. Kenaikan harga bahan baku dan gangguan rantai pasok dinilai masih menjadi hambatan bagi peningkatan kapasitas produksi dalam jangka pendek.

Sejalan dengan pandangan tersebut, laporan terbaru dari bi.go.id menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar tetap menjadi fokus kebijakan moneter guna menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global. Sementara itu, analisis yang dirilis reuters.com menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik dan arah kebijakan ekonomi Amerika Serikat masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dengan berbagai sentimen yang berkembang, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif dalam kisaran Rp17.840 hingga Rp17.900 per dolar AS pada perdagangan hari ini, dengan potensi penutupan masih berada di zona pelemahan. (Sn)

Scroll to Top