Rupiah Bergerak di Kisaran Rp16.829–Rp17.045 per Dolar AS, Sentimen Global Masih Jadi Penentu

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat, 13 Maret 2026, tercatat bergerak fluktuatif di sejumlah bank nasional. Kurs rupiah berada dalam rentang sekitar Rp16.829 hingga Rp17.045 per dolar AS, mencerminkan tekanan eksternal yang masih memengaruhi pergerakan mata uang domestik.

Pergerakan tersebut sejalan dengan kecenderungan pelemahan mata uang di kawasan Asia terhadap dolar AS. Meski demikian, beberapa mata uang seperti yen Jepang dan baht Thailand tercatat mampu mencatatkan penguatan terbatas di tengah dinamika pasar global.

Analis pasar uang menilai bahwa volatilitas rupiah masih akan dipengaruhi oleh berbagai sentimen eksternal, terutama pergerakan dolar AS, arus modal global, serta perkembangan kebijakan moneter negara maju. Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp16.850 hingga Rp16.950 per dolar AS.

Tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, juga dipicu oleh meningkatnya kehati-hatian investor global. Kondisi geopolitik serta ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Amerika Serikat turut menjadi faktor yang memengaruhi aliran dana ke pasar keuangan emerging markets.

Laporan Reuters menyebutkan bahwa tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat sehingga bank sentral cenderung berhati-hati dalam mengambil langkah pelonggaran kebijakan moneter. Dalam survei ekonom yang dihimpun media tersebut, Bank Indonesia diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya guna menjaga stabilitas nilai tukar di tengah ketidakpastian global.

Sementara itu, sejumlah pengamat pasar menilai pelemahan mata uang Asia terhadap dolar AS bukan hanya dipicu faktor domestik masing-masing negara, tetapi juga karena penguatan indeks dolar secara global yang membuat investor lebih memilih aset safe haven. Kondisi ini membuat mata uang regional cenderung bergerak defensif dalam beberapa waktu terakhir.

Dengan latar belakang tersebut, pelaku pasar masih mencermati perkembangan data ekonomi global, arah kebijakan suku bunga The Fed, serta dinamika geopolitik internasional yang berpotensi memengaruhi pergerakan rupiah dalam waktu dekat. (Sn)

Scroll to Top