Jakarta|EGINDO.co Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih berada dalam tekanan moderat pada perdagangan terkini. Berdasarkan pembaruan Kurs Transaksi Bank Indonesia per 7 April 2026, posisi dolar AS ditetapkan pada kisaran Rp17.122,19 (kurs jual) dan Rp16.951,81 (kurs beli).
Kurs tersebut mencerminkan acuan resmi yang digunakan bank sentral dalam transaksi dengan pemerintah maupun pihak lain, yang diumumkan secara rutin setiap hari kerja.
Secara tren, posisi rupiah masih bergerak di area psikologis 17.000 per dolar AS. Data sebelumnya menunjukkan kurs tengah Bank Indonesia pada 6 April 2026 berada di sekitar Rp17.015 per dolar AS, menandakan fluktuasi yang relatif terbatas dalam beberapa hari terakhir.
Di sisi lain, data pasar global juga memperlihatkan nilai tukar rupiah cenderung stabil dalam sepekan terakhir, dengan kisaran perdagangan sekitar Rp16.950 hingga Rp17.006 per dolar AS.
Sejumlah media internasional seperti Reuters menyoroti bahwa tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal, termasuk ketidakpastian global dan arus modal asing. Bank Indonesia bahkan menilai rupiah saat ini masih berada di bawah nilai fundamentalnya (undervalued), sehingga intervensi di pasar valas tetap dilakukan untuk menjaga stabilitas.
Selain itu, faktor geopolitik dan kebijakan suku bunga global turut membatasi ruang penguatan rupiah dalam jangka pendek, sebagaimana dilaporkan dalam berbagai survei ekonom internasional.
Ke depan, pergerakan rupiah diperkirakan masih akan berada dalam rentang sempit dengan kecenderungan volatil mengikuti dinamika global. Bank Indonesia diproyeksikan tetap mengedepankan stabilisasi nilai tukar melalui intervensi pasar dan pengelolaan likuiditas.
Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar disarankan tetap mencermati perkembangan eksternal, terutama arah kebijakan moneter Amerika Serikat dan arus investasi asing, yang menjadi faktor kunci pergerakan rupiah dalam waktu dekat. (Sn)