Jakarta|EGINDO.co Dinamika pasar valuta asing domestik kembali menunjukkan volatilitas yang signifikan pada akhir pekan ini. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Bank Indonesia (BI) per tanggal 23 Januari 2026, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) terpantau berada dalam rentang tekanan yang cukup ketat, mendekati level psikologis Rp17.000 per dollar AS.
Rincian Kurs Transaksi Bank Indonesia
Dalam pembaruan terakhir pada Jumat, 23 Januari 2026, Bank Indonesia menetapkan kurs transaksi USD/IDR sebagai berikut:
| Mata Uang | Satuan | Kurs Jual | Kurs Beli |
| USD (Dolar Amerika Serikat) | 1 | Rp16.986,51 | Rp16.817,49 |
Pelemahan nilai tukar ini mencerminkan tingginya ketidakpastian di pasar global yang memicu penguatan Greenback (Dolar AS) terhadap mayoritas mata uang negara berkembang. Beberapa faktor kunci yang melatarbelakangi pergerakan ini meliputi:
-
Divergensi Kebijakan Moneter: Pasar tengah mencermati sikap Bank Sentral AS (The Fed) di tengah tensi politik Amerika Serikat yang memanas, sementara Bank Indonesia diproyeksikan tetap mempertahankan BI-Rate di level 4,75% guna menjaga stabilitas makroekonomi dan daya tarik aset domestik.
-
Risiko Imported Inflation: Para ekonom memperingatkan bahwa jika Rupiah terus bertahan di atas level Rp16.900, risiko inflasi yang berasal dari barang impor (imported inflation) akan semakin nyata. Hal ini berpotensi mengoreksi daya beli masyarakat dan meningkatkan beban operasional industri yang bergantung pada bahan baku luar negeri.
-
Sentimen Geopolitik: Ketegangan di berbagai kawasan dunia turut mendorong investor untuk mengalihkan portofolio mereka ke aset-aset safe haven, yang secara langsung memberikan tekanan jual pada mata uang Garuda.
Menanggapi kondisi ini, Bank Indonesia tetap berkomitmen untuk berada di pasar (stay in the market) guna memastikan volatilitas tetap terkendali. Langkah-langkah intervensi melalui pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), serta pengelolaan likuiditas melalui instrumen SRBI (Sekuritas Rupiah Bank Indonesia) terus diperkuat untuk meredam spekulasi yang berlebihan.
“Stabilitas nilai tukar merupakan prioritas utama dalam memitigasi dampak eksternal terhadap pemulihan ekonomi nasional,” tulis laporan analis pasar keuangan pagi ini.
Meskipun Rupiah berada di level yang cukup menantang dibandingkan periode krisis sebelumnya, fundamental ekonomi Indonesia dinilai masih memiliki daya tahan, didorong oleh cadangan devisa yang memadai dan pengelolaan fiskal yang tetap prudent. (Sn)