Jakarta|EGINDO.co Fluktuasi nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dinilai dapat menjadi momentum emas bagi para pelaku usaha berorientasi ekspor. Pelemahan mata uang Garuda ini diproyeksikan mampu mendongkrak volume pengiriman komoditas lokal ke pasar global.
Pada pembukaan perdagangan di pasar spot Senin (25/5/2026) awal pekan ini, mata uang rupiah kembali terkoreksi sebesar 0,15 persen, sehingga posisinya kini berada di level Rp 17.744 per dolar AS.
Menteri Perdagangan, Budi Santoso, mengungkapkan bahwa situasi ini seharusnya dimanfaatkan secara optimal oleh para eksportir nasional. Menurutnya, penurunan nilai tukar rupiah secara tidak langsung membuat harga produk asal Indonesia menjadi lebih kompetitif di kancah internasional.
“Justru sebenarnya kita ingin mendorong teman-teman itu untuk meningkatkan ekspor produk-produk lokal. Ketika rupiah melemah seharusnya daya saing kita bagus kan. Harganya berarti murah di pasar internasional,” ujar Budi saat ditemui di Gedung Kementerian Perdagangan, Gambir, Jakarta Pusat, Senin (25/5/2026).
Meski memberikan keuntungan dari sisi harga jual yang lebih murah di luar negeri, fenomena ini bagaikan pisau bermata dua. Berdasarkan analisis ekonomi, berikut adalah peta dampak dari pergerakan kurs saat ini:
Sisi Positif (Peluang Eksportir): Pendapatan dalam bentuk dolar AS akan menghasilkan nilai konversi rupiah yang lebih besar. Komoditas unggulan seperti hasil pertanian, perkebunan, dan manufaktur ringan berpotensi kebanjiran permintaan.
Sisi Negatif (Tantangan Importer): Industri dalam negeri yang masih bergantung pada bahan baku impor (seperti farmasi, elektronik, dan tekstil) harus bersiap menghadapi pembengkakan biaya produksi (imported inflation).
Menanggapi situasi makroekonomi ini, sejumlah media ekonomi seperti Kompas dan Kontan turut menyoroti bahwa momentum keunggulan harga ini tidak akan berjalan maksimal tanpa adanya intervensi strategis. Kompas menekankan pentingnya pemerintah memberikan insentif logistik dan efisiensi biaya pengiriman di pelabuhan agar produk lokal benar-benar kompetitif. Di sisi lain, riset dari Kontan mengingatkan pelaku usaha untuk tetap waspada terhadap volatilitas global, mengingat Bank Indonesia kemungkinan besar akan tetap melakukan intervensi di pasar valas guna menjaga agar pelemahan rupiah tidak melaju terlalu liar dan mengganggu stabilitas moneter domestik.
Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan berharap momentum ini dapat dimanfaatkan oleh sektor UMKM maupun korporasi besar untuk memperluas penetrasi pasar ke negara-negara tujuan ekspor nontradisional, sekaligus membantu memulihkan neraca perdagangan Indonesia. (Sn)