Jakarta | EGINDO.com – Ruang kosong perkantoran di Jakarta mencapai 3 juta meter persegi hingga pada Kuartal II-2026. Pasalnya pasar perkantoran di Jakarta masih dibayangi tingginya tingkat ruang kosong. Colliers Indonesia mencatat total ruang perkantoran yang belum terisi di Jakarta mencapai sekitar 3 juta meter persegi.
Kepala Departemen Riset Colliers Indonesia, Ferry Salanto, dalam media briefing secara virtual yang dikutip EGINDO.com pada Minggu (11/7/2026) memerinci bahwa ruang kosong di kawasan central business district (CBD) mencapai 1,76 juta meter persegi. Sementara itu, ruang kosong di luar CBD tercatat sebesar 1,23 juta meter persegi, sedangkan di kawasan CBD, ruang kosong paling banyak berada di area Sudirman dengan kontribusi sebesar 39%.
Hal yang sama terjadi di kawasan Gatot Subroto dan Rasuna Said yang masing-masing menyumbang 18% dan 16% dari total ruang kosong di CBD. Sementara itu, di luar kawasan CBD, Jakarta Selatan menjadi wilayah dengan kontribusi ruang kosong terbesar, yakni mencapai 43%. Mayoritas ruang kosong di kawasan tersebut berasal dari gedung perkantoran kelas B.
Ferry menilai kondisi tersebut menciptakan pasar yang menguntungkan bagi penyewa atau tenant-driven market, karena perusahaan memiliki lebih banyak pilihan dalam menentukan lokasi kantor. Situasi ini juga mendorong banyak perusahaan memanfaatkan momentum untuk berpindah ke gedung yang lebih modern, lebih efisien, serta memiliki akses yang lebih baik terhadap transportasi publik.
Kemudian Colliers Indonesia menilai pengembang kini lebih selektif dalam menghadirkan proyek perkantoran baru. Alih-alih menambah pasokan, banyak pengembang memilih melakukan renovasi dan meningkatkan kualitas gedung yang telah ada. Strategi tersebut dinilai dapat membantu pasar menyerap ruang kosong secara bertahap sekaligus menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan dalam beberapa tahun mendatang. Selain itu, preferensi penyewa juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya perusahaan lebih mengutamakan harga sewa dan lokasi, kini pertimbangan dalam memilih kantor menjadi lebih beragam.
Lalu Colliers Indonesia juga mencatat, perusahaan semakin memperhatikan kualitas gedung, terutama yang menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG) atau konsep green building. Faktor lain yang menjadi pertimbangan meliputi insentif dan fleksibilitas skema sewa, kedekatan dengan transportasi umum, hingga ketersediaan ruang kantor siap pakai yang dapat mengurangi biaya fit-out.
Disamping itu juga tentang harga, pemulihan tarif sewa perkantoran juga terus berlangsung secara bertahap. Pada kuartal II-2026, rata-rata tarif dasar sewa di kawasan CBD mencapai Rp 218.759 per meter persegi per bulan. Colliers Indonesia memperkirakan tarif tersebut masih berpotensi meningkat hingga mencapai sekitar Rp 223.331 per meter persegi per bulan pada akhir 2026.@
Bs/fd/timEGINDO.com