Roma | EGINDO.co – Pasukan keamanan dikerahkan secara besar-besaran di Italia pada hari Sabtu (24 Oktober) untuk mengawal aksi unjuk rasa yang diikuti oleh ribuan orang, meskipun terdapat tindakan keras menyusul bentrokan hebat akhir pekan lalu.
Polisi menyatakan telah menangkap sembilan orang dan menahan sementara 371 orang lainnya—termasuk 110 anak di bawah umur—yang dibawa ke kantor polisi di delapan kota saat bentrokan pecah dalam beberapa aksi unjuk rasa.
Pemerintahan sayap kanan pimpinan Perdana Menteri Giorgia Meloni telah menyetujui langkah-langkah keamanan yang ketat minggu ini, dan polisi telah melakukan puluhan penggeledahan serta penangkapan menjelang aksi unjuk rasa tersebut.
“Berunjuk rasa adalah sebuah hak. Kita perlu menyuarakan pendapat kita,” ujar Alessio Scimone, seorang pekerja di tempat taruhan berusia 24 tahun yang ikut berunjuk rasa di Milan, kepada AFP.
Ribuan orang berpawai di Milan, menyebabkan lalu lintas di pusat kota terhenti total.
Jumlah massa yang serupa juga berkumpul di Roma, di mana beberapa pengunjuk rasa sempat menerobos masuk ke dalam Colosseum.
Menteri Dalam Negeri Matteo Piantedosi, seperti dikutip kantor berita Italia ANSA, mengatakan bahwa polisi “berhasil mengisolasi dan mengendalikan kelompok perusuh dengan sikap yang seimbang dan profesional.”
“Di Italia, tidak boleh ada ruang bagi mereka yang merasa bisa bertindak tanpa takut akan konsekuensi hukum,” tegasnya.
“Kami Tidak Takut”
Di Milan, beberapa toko tutup lebih awal dan sebagian lainnya memasang papan pelindung pada jendela mereka, menyusul terjadinya penjarahan di pusat mode tersebut pada akhir pekan lalu.
Sementara itu, toko-toko lain tetap buka sebagai bentuk perlawanan, menyusul imbauan dari Wali Kota Giuseppe Sala agar warga tidak “panik”.
“Kami ingin menyampaikan pesan bahwa kami tidak takut dengan anak-anak ini,” kata Alessandro Buhne, 30 tahun, yang bekerja di toko pakaian pria Philipp Plein.
“Para wisatawan merasa takut dengan situasi ini, jadi kami ingin menunjukkan bahwa Anda aman jika masuk ke toko kami,” ujarnya.
Stefania Segalina, 55 tahun, seorang sukarelawan penggalang dana jalanan untuk organisasi amal MSF, mengaku lega karena tidak terjadi bentrokan.
“Kami sempat khawatir, tetapi kami tetap menjalankan rencana untuk menggalang dana,” katanya.
“Kami melihat kehadiran polisi dalam jumlah besar,” tambahnya. “Itu berarti Anda tidak merasa sendirian, seandainya terjadi sesuatu.”
Menyusul bentrokan di Milan akhir pekan lalu, pemerintah mengerahkan 500 tentara ke kota tersebut dan mengesahkan dekrit yang melonggarkan aturan penahanan bagi anak di bawah umur, serta menetapkan denda bagi orang tua mereka atas kerusakan apa pun yang ditimbulkan selama demonstrasi.
Pada hari Sabtu, pihak kepolisian juga menyatakan telah menangkap seorang pria berusia 30 tahun yang diduga sebagai sosok di balik “Gerakan 17 Oktober” (October 17 Movement), sebuah kelompok yang menyerukan aksi protes tersebut.
Kelompok-kelompok mahasiswa melontarkan kritik keras terhadap respons pemerintah dalam menjaga ketertiban umum. Mereka mendesak pemerintah untuk menanggapi tuntutan para pengunjuk rasa, seperti pemangkasan anggaran militer untuk dialihkan ke sektor pendidikan.
Demonstrasi ini merupakan bagian dari gelombang protes yang dilakukan oleh mahasiswa, pengemudi truk, dan petani terkait pemangkasan anggaran serta masalah biaya hidup, seperti harga perumahan dan bahan bakar.
Pekan ini, pemerintah menyetujui langkah-langkah keuangan untuk membantu dunia usaha yang terdampak oleh lonjakan harga bahan bakar—sebuah dampak yang muncul setelah pecahnya perang di Timur Tengah.
Blokade truk yang sempat melumpuhkan wilayah Italia bagian selatan—hingga menyebabkan kelangkaan bahan bakar dan pangan yang parah selama sepekan—kini telah diakhiri.
Sumber : CNA/SL