Jakarta|EGINDO.co Pasar keuangan dalam negeri memperlihatkan performa yang menggeliat pada pertengahan pekan ini. Langkah PT Pertamina (Persero) merevisi harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi dinilai memberikan angin segar bagi para pelaku pasar yang sempat khawatir terhadap membengkaknya beban anggaran negara.
Berdasarkan rilis resmi korporasi, per Rabu (10/6/2026), harga eceran Pertamax dipatok naik sekitar 32% dari semula Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Langkah serupa juga diterapkan pada varian Pertamax Green yang kini menyentuh Rp17.000 per liter dari posisi sebelumnya Rp12.900. Kendati demikian, manajemen Pertamina memutuskan untuk tidak mengubah harga jual jenis BBM penugasan dan subsidi seperti Pertalite dan Solar, termasuk beberapa produk nonsubsidi lain seperti Pertamax Turbo serta lini produk Dex.
Apresiasi Kurs Rupiah dan Lonjakan IHSG
Kebijakan ini langsung direspons positif oleh instrumen investasi domestik pada pembukaan perdagangan Rabu pagi.
-
Mata Uang Garuda Perkasa: Nilai tukar rupiah di pasar spot sukses merangkak naik ke posisi Rp17.894 per dolar AS. Sehari sebelumnya, mata uang lokal sempat tertekan hebat mendekati area Rp18.200 akibat guncangan global. Selain faktor penyesuaian harga energi, penguatan ini disokong oleh intervensi moneter Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 basis poin menjadi 5,5%.
-
Indeks Saham Melesat: Selaras dengan penguatan rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung tancap gas di menit-menit awal perdagangan. Melansir data Bursa Efek Indonesia (BEI) hingga pukul 09.02 WIB, indeks melambung 1,59% (naik 91,55 poin) menuju level 5.838,20. Dominasi pasar dikuasai oleh 449 saham yang menghijau, berbanding 141 saham melemah dan 136 saham stagnan, dengan total kapitalisasi pasar bertengger di angka Rp9.554 triliun. Kenaikan motor utama bursa dipimpin oleh jajaran saham berkapitalisasi jumbo (big caps) seperti PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).
Membaca Sinyal Disiplin Fiskal di Tengah Risiko Geopolitik
Menurut analisis dari Lead Investment Analyst Stockbit, Edi Chandren, kebijakan penyesuaian ini merupakan sinyal krusial mengenai kedisiplinan pengelolaan energi nasional. Terlebih, pasar global saat ini tengah dihantui volatilitas harga minyak mentah akibat ketegangan bersenjata yang melibatkan Iran sejak awal Maret lalu.
Secara aturan dasar, Pertamax sebetulnya bukan termasuk komoditas penugasan yang biayanya ditanggung langsung lewat pos subsidi atau kompensasi APBN. Oleh sebab itu, kenaikan harga ini tidak serta-merta memangkas beban keuangan pemerintah secara langsung.
Mengutip rilis dari internal Pertamina pada Mei lalu, beban selisih antara harga keekonomian riil dan harga jual eceran Pertamax di lapangan selama ini ditalangi terlebih dahulu oleh kas internal Pertamina. Jika mengacu pada kondisi tersebut, penyesuaian harga ke tingkat yang lebih realistis otomatis meminimalkan potensi tagihan kompensasi bersyarat kepada negara di kemudian hari. Pengamat pasar modal menilai langkah ini melengkapi sentimen teknikal pasar (relief rally) setelah IHSG sempat menyentuh area jenuh jual (oversold) akibat tekanan modal asing beberapa pekan sebelumnya.
Melalui bauran kebijakan moneter BI yang agresif serta keberanian korporasi pelat merah menyesuaikan harga jual komoditas energi, persepsi risiko investasi di Indonesia kini berangsur membaik di mata para pemodal global. (Sn)