Renungan dan Muhasabah Diri pada Tahun Baru 1446 hijriyah

Hasnil Aflah Pasaribu,S.Sos,.M.I.Kom
Hasnil Aflah Pasaribu,S.Sos,.M.I.Kom

Oleh: Hasnil Aflah Pasaribu,S.Sos,.M.I.Kom

TAHUN baru Islam 1446 H baru terlewati beberapa hari. Keadaan diri kita juga masih sama seperti hari-hari sebelum nya tidak ada yang berubah baik itu bertambah atau berkurang. Bertambah dalam hal ibadah ataukah berkurang dalam hal perbuatan yang sia-sia. Harapannya setiap pergantian tahun menjadikan refleksi diri untuk adanya yang berkurang prilaku yang tidak baik  dan bermotivasi agar  bertambah kegiatan ruhiyah pada diri kita.

Pagi ini dengan aktifitas mengopi atau ngeteh sembari membaca beberapa berita atau WAG keluarga maupun teman alumni di gawai kita yang mungkin gawai dihargai sekitar 1 juta keatas. Netnya tembus bisa ke- 2 juta rupiahlah kira-kira. Dibilang tidak keren dan tidak bisa menampung karena memori penuh. Pastinya bisa berselancar dan bersilaturahmi dengan sahabat, keluarga dan handai taulan yang jauh keberadaannya nun jauh disana sehingga bisa bersilaturahmi melalui WAG mungkin atau melalui jalur pribadi atau japri.

Memandangi anak ke sekolah bersama-sama dengan kawan-kawannya yang mungkin mereka jumpa di ujung jalan atau memang kawannya itu tetangganya sehingga mereka pergi bersama-sama serasa syahdu. Beberapa sekolah sudah ada yang membuka gerbang untuk menyambut murid baru ada juga yang menyambut murid baru pada 15 Juli 2024.

Kembali aku merenung ketika melihat anak-anak SD ini berjalan bersama sembari cerita dan tertawa, mungkin mereka anak baru ya, bajunya masih putih dan bersih. Merahnya masih cerah apalagi sepatu dan tasnya terlihat sangat baru. Diikuti oleh ibu mereka dari belakang. Aku terpikir apa yang ada dipikiran mereka tentang cita citanya? Apakah sudah ada terkonsep di kepalanya atau mereka tidak berpikir tentang cita-cita namun ada dipikiran mereka saat itu adalah siapakah nama kawanku dan guruku disekolah yang ku datangi ini?

Membayangkan begitu kurangnya motivasi negara untuk para generasi-generasi bangsa yang ingin maju dan berpendidikan, lantas muncul miris di dada, duh bagaimana dengan si kecil ini jika ternyata cita-cita mereka tak sampai dengan yang mereka impikan sejak dia kecil. Sekarang saja banyak yang tidak bisa memeroleh apa yang mereka inginkan karena terhalangi oleh biaya pendidikan mahal karena ekonomi sulit.

Baca Juga :  Membunuh Kebenaran, Akhirnya Bersama Hidup Dalam Aib

Aku merenung kembali kemasa beberapa puluh tahun yang silam dimana aku masih duduk di bangku SD. Kalau diingat – ingat ketika guru bertanya, apa cita citaku. Yang aku tahu aku ingin jadi guru. Itu yang terbesit dan terucap secara spontan. Mungkin karena kedua orang tuaku adalah seorang pengajar sehingga aku terpikir hanya gurulah cita cita yang the best menurutku. Apalagi aku melihat guru-guruku di sekolah mengajar dengan sangat tenang dan penyayang. Yah itulah yang kupikir saat itu.

Maju ke SMP cita-citaku hilang, tidak berbekas. Tidak tahu apa keinginanku yang akan datang. Mau masuk SMA saja aku belum tau kemana, blank!. Rasanya yang ada dipikiran saat itu adalah bisa tamat SMP yah Alhamdulillah. Cita-cita guru tergugurkan karena ternyata banyak sekali kerjaan guru ini. Harus buat soal, belum lagi menegur murid yang terlambat, yang kasih PR disaat libur sekolah guru tidak libur karena harus ada terus di sekolah. Akhirnya cita-cita menjadi   guru hilang dari angan-angan.

Masuk Aliyah. Ini malah membuat aku makin pusing. Aktifitas ekskul tidak ada yang aku suka. Hari-hari hanya di kelas. Datang suka telat dan selalu kenak tegur dengan guru BP dengan memberikan banyak alasan. Yang paling layak dan tepat, yah.. macet, sebab pergi sekolah juga sudah kesiangan otomatis angkot udah dikit dan masuk jam padat, tak bisa dipungkiri akan merasakan macet di setiap persimpangan perbelanjaan rakyat. Karena sering telat aku sempat merenungi diri mau jadi apa aku sebenarnya. Tapi satu hal yang pelan-pelan aku sadari dengan passionku bahwa aku bisa menggambar.

Yah, akhirnya aku mulai menggambar objek untuk baju komunitas kelasku, sehingga gambar yang aku buat  menjadi pilihan untuk dicetak ke kaos komunitas kami. Sejak itu aku mulai menyukai dunia desain, perlahan tapi pasti aku terus belajar dan belajar hingga harapanku bisa kuliah di ASRI Yogya. Harapanku tidak sesuai dengan cara pandang ayahku. Ayahku menentang keras kuliahku ke Yogya, sampai akhirnya cita-citaku buyar dan punah. Akupun memilih tetap kuliah di kampus Negeri di Medan hingga selesai S-1.

Baca Juga :  Apakah Boleh Menunjukan Foto Copy SIM Saat Kena Razia?

Perjalanan cita-cita tidak bisa ditebak. Semua itu berproses dari kematangan hidup kita. Bagaimana bijaksananyakah kita menyikapi jalan hidup? Merubah diri itu hanya kita yang bisa. Tidak bisa berharap dari orang lain. Orang lain hanya bisa menjadi motivator hidup, role model. Namun jika diri sendiri tidak bisa atau tidak mampu atau tidak ada keinginan untuk mengubah mindset untuk menjadi lebih baik maka cita-cita yang diinginkan tidak akan pernah terwujud.

Cita-cita itu akan bisa berjalan sesuai dengan passion. Passion itu datangnya dari diri kita. Dengan cara kita bisa membaca diri kita sendiri. Misalnya “aku bisa ini”, “eh  aku ternyata berbakat dibidang  inilah. Pelan-pelan tapi pasti karakter kita akan terbentuk. Pintar itu tentunya karakter diri kita yang baik namun lebih baik lagi jika kita pintar memiliki akhlak/adab/etika yang baik.

Hebat pun seseorang jika tidak punya adab maka akan menimbulkan toxic (racun) dalam diri kita. Lantas bagaimana dengan generasi akan datang? Mereka yang hari-hari sangat tergantung dengan gadget. Generasi z dan tik tok ini begitu sangat mengidolakan tokoh-tokoh yang mereka lihat pada sosial media. Bisa saja artis dalam negeri maupun luar negeri. Mereka sanggup mengikuti semua style idolanya, mencontoh orang yang mereka jadikan sebagai role model mereka. Jika role modelnya itu dimata mereka keren tapi tidak memiliki  adab  maka mereka tetap   akan  mengadopsinya. Mereka menganggap bahwa apa yang dilakukan idolanya itu adalah baik. Salah pun dinilai atau dianggap baik oleh para pengikutnya.

Bagi Seseorang yang sudah kadung suka berlebihan melihat sosok atau seseorang yang di idolakan atau dikaguminya itu maka dia tidak bisa lagi membedakan buruknya adab sang idolanya.

Baca Juga :  Rusia Hadapi Reaksi Balik Ketika Veto Akhiri Sanksi PBB Terhadap Korut

Sama halnya seperti berteman. Bertemanpun jika sudah berlebihan bisa membuat seseorang itu tidak bisa membedakan baik dan buruk pertemanannya.

Semakin sayang seseorang dengan temannya walau adab temannya buruk dia tetap menganggap dia teman yang tepat. Apalagi anak generasi z dan tiktok yang mereka sangat menjunjung tinggi nilai-nilai per-sosmed-an. Mereka lebih percaya dengan circle mereka dibandingkan perkataan seseorang yang bijak baik itu orangtua, guru, keluarga atau teman-teman yang mungkin bersebrangan berfikirnya dengan mereka. Hal-hal seperti ini di dalam agama Islam ada hal yang harus kita pahami terkait dengan etika berteman, sehingga nantinya efek dari berteman terlihat dalam pergaulan sehari-hari.

Ada hadist yang tepat menurut saya dengan pemaparan di atas. “Seseorang itu adalah agama temannya. Oleh karena itu, hendaklah setiap di antara kalian memperhatikan siapa yang menjadi temannya.” (HR. Abu Daud, At Tirmidzi)

“Carilah tahu tentang manusia berdasar keadaan sahabat mereka.” (HR Ibnu Majah) Dari kutipan hadist diatas menekankan bahwa hubungan persahabatan itu bisa dilihat dari aspek agama sebab bersahabat memiliki posisi yang penting dan dianggap sebagai bagian proses pemahaman diri dari kehidupan seorang muslim sebab bukan hanya lingkungan tempat tinggal namun ke lingkungan kehidupan yang lebih luas.

Dengan menjalin persahabatan diharapkan agar sesama saudara seiman apalagi generasi – generasi gadget (Z) ini bisa saling membantu berbagi dan menasihati dalam kebaikan yang didasarkan pada kejujuran dan kebaikan. Pada dasarnya, persahabatan bukan hanya sebatas hubungan sosial, namun juga merupakan sarana untuk memperoleh keberkahan dan kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Harapan kita semoga anak-anak generasi islami kelak bisa menjadi pilar-pilar agama dan negara agar nilai nilai agama dijunjung tinggi dalam pergaulan dan bermasyarakat. Wallahu’alam bishowab. (Tulisan ini kegelisahan hati melihat generasi z dan masa depan generasi bangsa)@

***

Penulis adalah anggota Majelis Lingkungan Hidup Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Medan, Sumatera Utara

Bagikan :
Scroll to Top