Relevankah Dalihan Na Tolu di Era Digital? Kearifan Relasional Batak untuk Menjawab Krisis Manusia Modern

Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang
Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang

Oleh: Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang

Perubahan teknologi digital telah membawa manusia memasuki zaman baru. Kecerdasan buatan, media sosial, dan konektivitas global membuat manusia semakin mudah berkomunikasi. Namun, kemajuan teknologi juga menghadirkan paradoks: manusia semakin terhubung secara digital, tetapi sering semakin jauh dalam relasi sosial yang bermakna.

Di tengah perubahan tersebut muncul pertanyaan penting: masih relevankah Dalihan Na Tolu dalam kehidupan masyarakat Batak masa kini?

Pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan sekadar mempertahankan romantisme budaya masa lalu. Sebaliknya, Dalihan Na Tolu perlu dipahami kembali secara kritis agar nilai dasarnya mampu menjawab tantangan zaman.

Jawabannya jelas: Dalihan Na Tolu masih relevan, bahkan semakin penting, karena inti ajarannya bukan sekadar tata adat, melainkan etika relasi manusia. Dalihan Na Tolu selama ini sering dipahami hanya sebagai sistem kekerabatan Batak yang terdiri atas hula-hula, dongan tubu, dan boru. Padahal, ia merupakan sistem nilai yang mengatur keseimbangan kehidupan sosial.

P.H.O.L. Tobing melalui kajiannya The Structure of the Toba-Batak Belief in the High God menunjukkan bahwa masyarakat Batak memiliki pandangan dunia yang melihat kehidupan sebagai suatu keteraturan yang berkaitan dengan Yang Ilahi, manusia, dan alam. Hal ini diperdalam oleh Anicetus B. Sinaga melalui The High God of the Toba Batak, yang menjelaskan dimensi religius dalam pemahaman masyarakat Batak tentang Yang Mahatinggi.

J.C. Vergouwen dalam The Social Organisation and Customary Law of the Toba-Batak of Northern Sumatra menjelaskan bahwa Dalihan Na Tolu merupakan prinsip utama organisasi sosial Batak Toba. Ia bukan sekadar pembagian posisi, tetapi mekanisme keseimbangan hak dan kewajiban.

Karena itu, Dalihan Na Tolu bukanlah sistem yang menempatkan satu pihak lebih tinggi dari pihak lain. Ia adalah keseimbangan peran. Hula-hula dihormati, dongan tubu dijaga hubungan persaudaraannya, dan boru dilayani dengan kasih. Ketiganya saling membutuhkan.

Di sinilah letak kekuatan Dalihan Na Tolu.

Dalam masyarakat modern, banyak persoalan muncul karena melemahnya relasi sosial. Individualisme meningkat, kepentingan pribadi sering mengalahkan kepentingan bersama, dan ruang digital sering menjadi tempat munculnya konflik tanpa tanggung jawab.

Mangapul Panggabean melihat nilai budaya Batak sebagai modal sosial yang memperkuat identitas dan solidaritas masyarakat. Sementara itu, Payaman J. Simanjuntak menekankan bahwa pembangunan manusia tidak hanya membutuhkan kemampuan ekonomi, tetapi juga kualitas karakter, tanggung jawab, dan hubungan sosial.

Nilai-nilai tersebut justru semakin dibutuhkan pada era digital. Namun, kita juga harus berani melakukan kritik terhadap praktik adat yang mengalami penyimpangan. Adat tidak boleh menjadi beban ekonomi. Pesta adat tidak boleh berubah menjadi perlombaan gengsi yang melahirkan utang.

Simbol adat tidak boleh mengalahkan makna. Ulos bukan terletak pada harga, tetapi pada kasih dan penghormatan yang menyertainya. Penghormatan dalam Dalihan Na Tolu juga tidak boleh berubah menjadi dominasi. Hula-hula, dongan tubu, dan boru bukanlah tingkatan manusia, melainkan hubungan tanggung jawab yang saling melengkapi.

Dalam perspektif iman Kristen, hubungan antara adat dan Injil bukanlah hubungan penghancuran, melainkan proses pemurnian. Lothar Schreiner dalam kajiannya tentang Adat dan Injil: Perjumpaan Adat dengan Iman Kristen di Tanah Batak menunjukkan bahwa Injil tidak datang untuk menghapus identitas budaya, tetapi menguji dan mengarahkan budaya agar semakin sesuai dengan nilai kasih dan kebenaran.

Pandangan ini sejalan dengan pemikiran Abraham Kuyper dan H. Richard Niebuhr bahwa iman tidak terpisah dari kehidupan budaya manusia. Budaya harus diterangi dan diperbarui agar menjadi sarana menghadirkan kebaikan. Karena itu, tantangan Dalihan Na Tolu saat ini bukanlah bagaimana mempertahankan bentuk lama, melainkan bagaimana menghidupkan kembali nilainya dalam konteks baru.

Di era digital, Somba Marhula-hula dapat dimaknai sebagai etika menghormati sesama dalam ruang digital. Kebebasan berbicara harus disertai tanggung jawab. Manat Mardongan Tubu berarti menjaga persaudaraan, termasuk dalam penggunaan media sosial agar teknologi tidak menjadi alat memecah hubungan.

Elek Marboru berarti menggunakan kemampuan dan teknologi untuk melayani, membantu, dan memberdayakan orang lain. Dengan demikian, Dalihan Na Tolu bukan hanya relevan dalam rumah adat atau pesta adat, tetapi juga relevan dalam ruang digital.

Sebagai pegiat lingkungan basis Geopark Kaldera Toba, saya melihat bahwa nilai Dalihan Na Tolu juga memiliki hubungan dengan persoalan ekologis. Krisis lingkungan pada dasarnya adalah krisis relasi. Ketika manusia kehilangan rasa hormat terhadap alam, keseimbangan kehidupan pun terganggu.

Masyarakat Batak dahulu memahami bahwa manusia tidak hidup terpisah dari tanah, air, hutan, dan lingkungan. Karena itu, semangat keseimbangan dalam Dalihan Na Tolu dapat diperluas menjadi etika hubungan manusia dengan alam.

Pada akhirnya, Dalihan Na Tolu tidak boleh menjadi sekadar simbol identitas budaya. Ia harus tetap menjadi nilai yang hidup. Teknologi boleh berubah. Generasi boleh berubah. Cara hidup boleh berubah. Namun, manusia tetap membutuhkan penghormatan, kasih, keseimbangan, dan tanggung jawab.

Itulah alasan Dalihan Na Tolu tetap relevan di era digital. Bukan karena ia mempertahankan masa lalu, tetapi karena ia memiliki kebijaksanaan untuk menuntun masa depan. Dalihan Na Tolu bukan warisan yang harus disimpan dalam museum budaya. Ia adalah kearifan hidup yang harus terus dihidupi agar manusia modern tidak kehilangan arah di tengah kemajuan teknologi.@

***

Penulis Dr. Wilmar Eliaser Simandjorang adalah Pegiat Lingkungan Basis Geopark Kaldera Toba

Scroll to Top