Nagoya | EGINDO.co – Para atlet angkat besi Korea Utara siap menunjukkan kekuatan kolektif mereka yang luar biasa saat kembali berlaga di Olimpiade untuk pertama kalinya dalam 12 tahun di Los Angeles pada 2028—dan mereka berpotensi memborong medali emas di Amerika Serikat, berkaca pada performa mereka di Asian Games.
Negara yang tertutup ini telah menjadi kekuatan dominan dalam dunia angkat besi sejak mengakhiri isolasi mandiri akibat COVID-19 dan memecahkan enam rekor dunia di Asian Games Hangzhou 2023. Mereka juga berhasil meraih enam medali emas.
Pada ajang Asian Games Aichi-Nagoya di Jepang pekan ini, para atlet angkat besi putra dan putri Korea Utara telah mengumpulkan empat medali emas dan dua perak dari enam nomor pertandingan sejauh ini.
Mereka juga telah mencatatkan tujuh rekor dunia hingga Jumat (25 September) malam, padahal rangkaian kompetisi angkat besi yang berlangsung selama tujuh hari itu belum mencapai separuh jalan.
Ri Song Gum mengawali rentetan prestasi gemilang tersebut dengan meraih medali emas serta memecahkan tiga rekor dunia di kelas 49 kg putri.
Saat ditanya apakah ia mempertimbangkan untuk naik ke kelas 53 kg—kelas putri terendah di Olimpiade mendatang—atlet bertubuh mungil namun bertenaga besar itu menjawab “Ya”, karena ia bertekad mengejar satu-satunya gelar yang belum melengkapi koleksi prestasinya.
Ia akan menghadapi persaingan dari rekan senegaranya sendiri, Kang Hyon Gong, yang juga tampil dominan dengan memenangkan medali emas kelas 53 kg putri beberapa jam kemudian.
Selanjutnya, Oh Kwang Ok mencatatkan tiga rekor dunia lagi dalam perjalanannya meraih medali emas kelas 57 kg putri pada hari Jumat.
“Olimpiade 2028 adalah target saya,” ujar Oh saat menjawab pertanyaan dari AFP.
“Saya akan berusaha sebaik mungkin untuk memenangkan emas di Los Angeles. Rekor dunia saja tidak cukup.”
Olimpiade Pertama Dalam 12 Tahun
Korea Utara tidak mengirimkan atlet ke Olimpiade Tokyo yang sempat tertunda, karena negara tersebut menutup perbatasannya selama masa pandemi. Setelah Asian Games Hangzhou pada September 2023, kesempatan untuk lolos kualifikasi angkat besi Olimpiade Paris 2024 sudah tertutup.
Sejak saat itu, Korea Utara menjelma menjadi kekuatan yang tak terbendung, khususnya di kelas-kelas berat badan ringan dalam cabang olahraga ini.
Pada kejuaraan dunia tahun 2024 di Manama, Bahrain, mereka tampil sangat dominan dengan memborong 45 medali di semua kategori—26 di antaranya emas—sementara Tiongkok berada di posisi kedua dengan perolehan 14 medali.
Setahun sebelumnya di Norwegia, Korea Utara kembali memuncaki klasemen dengan selisih jauh, mengoleksi 17 medali emas.
Ini merupakan catatan prestasi luar biasa bagi negara miskin yang mengalami kelangkaan pangan.
“Rezim Korea Utara telah lama memandang olahraga sebagai alat propaganda yang ampuh dan memanfaatkan kesuksesan di bidang olahraga untuk menyebarluaskan narasi mengenai kekuatan ideologi sosialis,” ujar Shreyas Reddy, seorang analis Korea Utara dari situs web NK News, kepada AFP.
Ia menambahkan bahwa otoritas olahraga Pyongyang mengelola sumber daya mereka yang terbatas dengan pendekatan yang sangat ilmiah.
“Alih-alih mengejar kesuksesan di cabang olahraga yang kemenangannya sangat bergantung pada bakat alami dan kejeniusan bawaan, otoritas olahraga Korea Utara justru mencurahkan sumber daya mereka yang terbatas pada cabang olahraga yang mengandalkan elemen-elemen yang lebih bisa dikendalikan, seperti kekuatan dan teknik,” tambah Reddy.
Cabang olahraga seperti angkat besi mengirimkan pelatih ke sekolah-sekolah dasar untuk menyeleksi anak-anak yang memiliki atribut fisik serta potensi yang tepat guna menjalani pelatihan intensif dan mendapatkan dukungan penuh.
“Para pelatih membentuk mereka menjadi atlet yang memiliki kekuatan fisik luar biasa dan konsistensi teknis yang tinggi,” kata Reddy.
Sementara negara-negara peserta Asian Games lainnya mengenakan perlengkapan baru untuk ajang Nagoya, Korea Utara tampaknya masih menggunakan rompi tim dan pakaian olahraga yang sama yang telah dipakai selama satu dekade atau lebih.
“Kami Adalah Pemimpin Dunia”
Tren mode terkini tidaklah penting bagi Korea Utara, namun masalah nutrisi menjadi prioritas; oleh karena itu, para atlet mendapatkan asupan gizi terbaik yang tersedia.
“Terlepas dari masalah kelangkaan pangan yang sudah diketahui luas di Korea Utara, rezim tersebut secara strategis mengalokasikan sumber daya yang terbatas pada cabang olahraga yang mereka yakini memiliki peluang terbesar untuk meraih kesuksesan,” tambah Reddy.
Kesuksesan yang diraih pasca-pandemi COVID ini tentu saja memunculkan pertanyaan mengenai apa yang dilakukan para atlet angkat besi Korea Utara selama perbatasan negara ditutup rapat dari dunia luar. Namun, otoritas antidoping dunia telah kembali ke negara tersebut.
Pada Januari 2024, Badan Antidoping Dunia (WADA) mencabut sanksi ketidakpatuhan terhadap Korea Utara setelah misi pengujian kembali dilakukan.
Bulan berikutnya, International Testing Agency (ITA) melakukan tes di luar kompetisi di dalam wilayah Korea Utara untuk pertama kalinya dalam empat tahun.
Saat ini, para atlet negara tersebut menjalani tes berstandar internasional seperti atlet lainnya, dan menurut para pejabat mereka, tidak ada rahasia di balik keberhasilan mereka.
“Para atlet kami telah bekerja sangat keras,” ujar Jang Song Nam, manajer tim angkat besi Korea Utara, kepada AFP.
“Setiap medali emas adalah balasan atas masa-masa sulit yang kami lalui selama empat tahun (isolasi akibat COVID-19). Kini, kami adalah pemimpin dunia.”
Sumber : CNA/SL