Realisasi PSR 2016 – 2023, Masih Rendah Dari Target Luasan

Petani Sawit Swadaya Sinarmas Agribusiness and Food, foto diambil sebelum pandemic Covid-19. (Foto Dok: Sinarmas)
Petani Sawit Sinarmas Agribusiness and Food (Foto Dok: Sinarmas)

Jakarta | EGINDO.co – Realisasi Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) selama periode tahun 2016-2023 seluas 306.000 Hektare masih rendah bila dibandingkan dengan target luasan. Hal itu diakui Direktur Eksekutif Badan Pengelola Dana Perkebunan Sawit Rakyat (BPDPKS) Eddy Abdurrachman bahwa capaian program replanting atau Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) masih rendah.

Eddy Abdurrachman melaporkan realisasi peremajaan sawit rakyat sejak tahun 2016-2023 baru mencapai 306.000 hektare. Padahal, PSR memiliki target luasan 180.000 hektare setiap tahunya di 21 provinsi sentral penghasil kelapa sawit.

Kata Eddy dalam Indonesia Palm Oil Conference (IPOC) 2023 di Nusa Dua, Bali bahwa pentingnya program peremajaan sawit rakyat tidak boleh diabaikan karna tanpa program tersebut maka produktivitas perkebunan kelapa sawit diproyeksikan akan menurun secara serius.

Baca Juga :  Profil Tol Bengkulu-Taba Penanjung Senilai Rp4,8 T

Menurutnya, penekanan keberlanjutan program peremajaan sawit rakyat penting dengan tujuan utamanya adalah meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani kecil, sambil memanfaatkan sekitar 2 juta hektare lahan perkebunan yang potensial. Pada tahun 2025, diperkirakan produksi CPO (Crude Palm Oil) hanya akan mencapai sekitar 44 juta metrik ton.

Untuk itu, program PSR perlu dilakukan dalam menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit. Sementara itu anggaran yang sudah dikucurkan oleh BPDPKS untuk pelaksanaan peremajaan sawit rakyat sejak awal pelaksanaan program 2016-2023 sebesar Rp 8,5 triliun.@

Bs/timEGINDO.co

Bagikan :