Jakarta|EGINDO.co Rencana investasi raksasa aluminium asal Rusia, United Company Rusal, di rantai pasok industri bauksit dan aluminium Indonesia menuai perhatian. Masuknya perusahaan global ini dinilai mampu memperkuat hilirisasi nasional, sekaligus menjadi ujian bagi penyerapan pasar domestik di tengah proyeksi surplus produksi global.
Menunggu Kepastian Kebijakan Pemerintah
Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Ditjen Minerba Kementerian ESDM, Cecep Mochammad Yasin, mengungkapkan bahwa Rusal menjadi salah satu investor yang menanti kejelasan kebijakan pemberian Izin Usaha Pertambangan (IUP) prioritas untuk hilirisasi. Langkah ini berpayung pada Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2025 yang memprioritaskan komoditas bauksit menyusul kematangan sektor nikel.
Kendati demikian, pemerintah tetap berpegang pada Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 202/PUU-XXIII/2025 yang mewajibkan pemenuhan kebutuhan rantai pasok mineral dalam negeri terlebih dahulu. Pemerintah berharap investasi Rusal tidak berhenti pada pengolahan bauksit menjadi alumina, melainkan berlanjut hingga produksi aluminium batangan dan barang turunannya guna menekan angka impor.
Peluang Teknologi dan Tantangan Pasar Domestik
Ketua Umum Perhapi, Sudirman Widhy, menyambut baik rencana tersebut karena dapat membawa tambahan modal, teknologi baru asal Rusia yang memperkaya wawasan industri, serta jaringan pasar global. Ia juga menilai masuknya Rusal tidak perlu dikhawatirkan oleh industri dalam negeri seperti Inalum, melainkan menjadi peluang sinergi strategis.
Terlebih lagi, kebutuhan aluminium domestik dipacu oleh pertumbuhan ekosistem kendaraan listrik (EV), energi terbarukan, dan infrastruktur.
Di sisi lain, Direktur Strategi Korporasi, Pengembangan Usaha, dan Komersial Inalum, Arif Haendra, mengingatkan adanya potensi oversupply aluminium global pada periode 2030–2031 seiring lonjakan kapasitas investasi di dalam negeri yang mendekati angka 9 juta ton. Sementara itu, konsumsi per kapita Indonesia saat ini masih berada di kisaran 1,5 kilogram.
Untuk mengantisipasi risiko kelebihan pasokan, industri nasional didorong untuk memperkuat pasar domestik melalui diversifikasi dan substitusi material, seperti penggunaan aluminium sebagai pengganti baja di sektor otomotif atau pengganti tembaga untuk kabel tegangan tinggi. Dengan strategi hilirisasi yang matang, Indonesia diharapkan mampu bertransformasi menjadi produsen produk hilir bernilai tambah tinggi, bukan sekadar pengekspor bahan baku mentah. (Sn)