Oleh: Wilmar Eliaser Simandjorang
Ada yang perlahan menjauh dari kita akhir-akhir ini. Bukan semata-mata uang atau jabatan, melainkan rasa akan asal. Kita pandai berbicara tentang masa depan, tetapi kadang lupa memberi tempat kepada masa lalu. Kita sibuk membangun ke atas, tetapi kurang merawat akar ke bawah—ke tempat api pertama dikenang, patik diwariskan, ke kaki Dolok Pusuk Buhit, ke Sianjurmula-mula.
Mungkin sudah waktunya kita berhenti sejenak. Bukan untuk hidup di masa lalu, melainkan untuk mengingat dari mana kita berasal, menghargai kehidupan yang diwariskan, dan merawatnya dengan kasih serta tanggung jawab.
Mula-Ni: Mengingat Asal
Orang tua dahulu mengenal ungkapan: mula ni api, mula ni patik, mula ni pulung-pulungan. Kata mula mengingatkan bahwa kehidupan tidak dimulai dari diri sendiri. Ada yang mendahului kita, ada sejarah yang membentuk kita, ada warisan yang diterima, dan ada tanggung jawab yang harus diteruskan.
Sianjurmula-mula karena itu bukan sekadar nama tempat. Ia adalah ruang ingatan tentang asal-usul, perjalanan manusia, patik, kekerabatan, dan kehidupan yang berkembang dari generasi ke generasi.
Mengingat asal bukan berarti menerima setiap cerita tanpa pengujian. Justru karena asal-usul penting, ia perlu dipelajari dengan kecintaan sekaligus ketelitian, membedakan sejarah, warisan, penafsiran, dan mitos.
Danau Toba: Tanah Asal yang Harus Dirawat
Begitu pula Danau Toba. Ia bukan hanya panorama indah, tetapi ruang kehidupan yang mempertemukan manusia, air, tanah, hutan, pertanian, bahasa, adat, marga, dan sejarah. Mencintai Danau Toba tidak cukup dengan bangga menyebutnya sebagai tanah asal.
Mencintai berarti menjaga.
Menjaga air, tanah, hutan, lingkungan, kehidupan masyarakat, dan kebudayaan yang tumbuh bersamanya. Tanah asal tidak meminta kita sekadar membanggakannya. Ia mengingatkan kita untuk bertanggung jawab atas apa yang kita terima.
Sahala: Wibawa, Bukan Kuasa
Dalam kebudayaan Batak dikenal istilah sahala, yang dalam perjalanan pemikiran Batak berkaitan antara lain dengan wibawa, martabat, kharisma, hikmat, dan otoritas. Istilah itu patut dipelajari sebagai warisan budaya. Namun, yang penting bukan siapa yang merasa paling memiliki sahala, melainkan bagaimana wibawa digunakan untuk kebaikan.
Guru berwibawa ketika mengajar dengan keteladanan. Pemimpin ketika berlaku adil. Orang tua ketika membimbing dengan kasih. Petani ketika bekerja dengan jujur. Karena itu, wibawa bukan trofi, melainkan tanggung jawab.
Ampang siopat suhi mengingatkan bahwa sisi-sisi yang berbeda diperlukan agar satu wadah tetap kokoh. Semangat saling menopang itu dapat kita lihat dalam Dalihan Na Tolu: manat mardongan tubu, elek marboru, somba marhula-hula.
Anjur: Membuka Jalan
Dari Sianjur, leluhur dikenang melalui perjalanan dan pembukaan jalan ke berbagai wilayah. Anjur dapat kita renungkan sebagai panggilan untuk membuka jalan bagi kehidupan yang datang sesudah kita: meneruskan marga, menjaga hubungan, mendidik anak, memelihara bahasa, merawat adat yang baik, menjaga tanah dan air, serta meninggalkan teladan.
Maka alurnya menjadi jelas:
Mula-Ni → mengenal asal.
Sahala → memahami wibawa sebagai tanggung jawab.
Anjur → meneruskan kehidupan dengan pengabdian.
Pulang untuk Mengingat dan Merawat
Mungkin inilah makna pulang ke Pusuk Buhit yang sesungguhnya. Bukan sekadar kembali ke suatu tempat, melainkan kembali kepada kesadaran tentang asal, kehidupan, dan tanggung jawab.
Kita mencintai budaya Batak bukan untuk mengagungkan masa lalu, tetapi untuk merawat nilai baiknya. Kita mencintai Danau Toba bukan hanya karena keindahannya, tetapi karena kehidupan yang dipercayakan di dalamnya.
Pusuk Buhit seakan bertanya: “Apakah engkau masih mengingat dari mana asal apimu?”
Jika masih ingat, rawatlah akar itu. Jika menerima warisan, teruskanlah dengan lebih baik.
Mula-Ni memberi kita akar. Sahala mengingatkan kita pada tanggung jawab.
Anjur mengajarkan kita untuk meneruskannya. Di antara ketiganya, budaya tidak hanya dikenang. Ia dihidupi. Horas.
***