Jakarta|EGINDO.co Kawasan Transit Oriented Development (TOD) Dukuh Atas bersiap menghadapi transformasi besar dalam sistem mobilitas perkotaannya. PT MRT Jakarta (Perseroda) memimpin realisasi pembangunan jembatan penyeberangan orang melingkar atau pedestrian deck bernilai investasi sekitar Rp300 miliar. Infrastruktur ini dirancang sebagai solusi strategis untuk memecah volume mobilitas harian yang selama ini menumpuk di satu titik sempit, yakni Terowongan Kendal.
Kepala Departemen Perencanaan TOD PT MRT Jakarta, Sagita Devi, menjelaskan bahwa kehadiran fasilitas anyar ini akan mendistribusikan arus komuter secara merata ke berbagai koridor transportasi.
“Fasilitas ini krusial untuk memecah penumpukan massa di Terowongan Kendal yang selama ini menjadi akses tunggal penghubung antar-kuadran kawasan,” ungkap Sagita, Kamis (30/7/2026)
Integrasi Antarmoda dan Desain Konstruksi
Struktur pedestrian deck tersebut dirancang membentang berbentuk lingkaran berdiameter 100 meter dengan ketinggian bagian bawah sekitar 8 meter di atas Jalan Jenderal Sudirman. Pemerintah turut melengkapinya dengan tiga unit eskalator, tiga unit elevator, serta fasilitas ramah disabilitas demi menjamin inklusivitas akses.
Infrastruktur ini diproyeksikan menjadi katalis utama penyatuan ekosistem transportasi publik lintas operator, yang meliputi:
-
Stasiun KRL Sudirman
-
Stasiun KA Bandara BNI City
-
Stasiun MRT Dukuh Atas
-
Halte Transjakarta
-
Stasiun LRT Jabodebek
-
Rencana Stasiun LRT Jakarta Fase 1C (Koridor Manggarai–Dukuh Atas)
Kompleksitas Lapangan dan Tantangan Multisektor
Di sisi lain, Advisor Program Management Office Division MRT Jakarta, Agus Trihan, memaparkan bahwa pengerjaan fisik di lapangan menyimpan tingkat kesulitan yang tinggi. Proses konstruksi harus menghadapi ruang kerja yang sangat terbatas di antara terowongan MRT eksisting, bentang struktur sepanjang 66 meter di atas aliran sungai serta ruas Jalan Jenderal Sudirman, hingga keharusan menjaga fungsi rumah pompa agar operasional pengendalian genangan air di underpass tidak terganggu.
Selain aspek teknis rekayasa sipil, manajemen proyek juga dihadapkan pada koordinasi lintas kelembagaan yang kompleks. Pembangunan ini melibatkan kolaborasi intensif bersama Pemprov DKI Jakarta, Direktorat Jenderal Perkeretaapian Kementerian Perhubungan, Kementerian Pekerjaan Umum, PT Kereta Api Indonesia (KAI), serta sejumlah dinas teknis daerah.
Kendala krusial lainnya yang masih dalam tahap pengkajian mendalam adalah penyediaan fasilitas penurunan dan kantong pengendapan bagi pengemudi ojek daring (ojol). MRT Jakarta berencana menggandeng para pemilik aset komersial di ring utama, seperti manajemen Wisma BNI, guna mengalokasikan ruang khusus penjemputan penumpang demi mengantisipasi potensi titik kemacetan baru.
Progres Linimasa dan Prospek Ekonomi Properti
Tahapan administratif proyek terus berjalan setelah groundbreaking resmi dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung pada 21 Juni 2026. Manajemen saat ini tengah memproses tahap tender seleksi kontraktor pelaksana, dengan target pemenang lelang dapat memulai konstruksi di lapangan pada November 2026. Seluruh rangkaian pekerjaan pembangunan infrastruktur publik ini ditargetkan tuntas sepenuhnya pada penghujung tahun 2028.
Menanggapi inisiatif tersebut, pengamat sektor properti senior, Anton Sitorus, sebagaimana dilansir melalui ulasan ekonomi Katadata, memberikan pandangan positifnya. Menurutnya, penyatuan sarana transportasi publik dengan kawasan properti komersial merupakan instrumen pengungkit efisiensi ekonomi makro perkotaan yang terbukti sukses di berbagai kota global.
Kendati demikian, Anton mengingatkan bahwa efektivitas konsep Transit-Oriented Development (TOD) di Indonesia masih memerlukan penyempurnaan, terutama dalam hal penyediaan koridor fisik langsung yang mengoneksikan stasiun secara mulus ke dalam gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan hunian vertikal seperti halnya standar tata kota di Singapura. Kesuksesan jangka panjang kawasan Dukuh Atas tidak hanya bergantung pada wujud fisik jembatan semata, melainkan pada kelancaran dan kenyamanan mobilitas terpadu bagi para pelaku ekonomi di jantung Segitiga Emas Jakarta. (Sn)