Prospek Saham Indah Kiat Pulp & Paper, Bangun Pabrik Baru

Fadmin Malau
Fadmin Malau

Catatan: Fadmin Malau

Pada hari Selasa 16 Mei 2023 lalu, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) mengadakan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) dan dalam RUPSLB itu menyetujui rencana INKP duntuk melakukan pembangunan pabrik kertas industri beserta dengan sarana pendukung yang baru.

Hal itu dikatakan Direktur INKP Kurniawan Yuwono kepada media RUPS-LB INKP itu di Grand Hyatt, Jakarta Pusat. Kurniawan mengatakan, dalam RUPSLB menyetujui rencana INKP untuk melakukan pembangunan pabrik kertas industri beserta dengan sarana pendukung yang baru berlokasi di Karawang, Jawa Barat dengan kapasitas produksi sebesar 3,9 juta ton per tahun.

Dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), INKP sudah memiliki analisa kelayakan. Kapasitas terpasang dan produksi pabrik baru itu akan mencapai 3,9 juta ton per tahun. Terdiri dari kertas jenis industrial white paper 3 juta ton dan industrial brown paper 900.000 ton per tahun.

Disebutkan emiten kertas Grup Sinarmas, PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) akan menggelar ekspansi dengan nilai besar, dimana INKP berencana membangun pabrik kertas industri beserta sarana pendukungnya dengan investasi US$ 3,63 miliar. Nilai investasi US$ 3,63 miliar itu jika dikonversi dengan asumsi kurs rupiah Rp14.912 per dolar Amerika Serikat maka jumlahnya setara dengan Rp 54,17 triliun.

Baca Juga :  Minyak Stabil Karena Investor Tunggu Komentar Fed Reserve AS

INKP bakal membangun pabrik kertas industri tersebut di atas lahan dengan luas sekitar 350 hektare di Karawang, Jawa Barat dengan memproyeksikan sudah bisa mencatatkan penjualan dari pabrik itu pada tahun 2024, dimana penjualan industrial paper dari pabrik Karawang bisa mendorong penjualan neto INKP sebanyak US$ 1,32 miliar.

Untuk diketahui pembaca bahwa saat ini INKP memiliki fasilitas produksi di Perawang-Riau, Serang-Banten, dan Tangerang-Banten yang mana yotal kapasitas produksi pada tahun 2022 adalah 2,95 juta ton pulp, 1,35 juta ton kertas budaya, 2,08 juta ton kertas industri, damn 54.000 ton tissue.

Disebutkan bahwa utilisasi kapasitas produksi pabrik INKP yang ada sekarang ini hampir mencapai batas, yakni 95 persen maka dari itu perlu ekspansi pabrik baru untuk mengantisipasi meningkatnya permintaan produk kertas industri untuk pasar domestik dan pasar ekspor.

Baca Juga :  Utang Luar Negeri RI Nyaris Tembus Rp 6 Ribu Triliun

Berdasarkan catatan penulis prospek bisnis INKP masih tergantung dengan kondisi aktivitas ekonomi. Hal yang pasti semua industry tidak terkecuali INKP mempunyai sejumlah tantangan dimana adanya isu perlambatan ekonomi secara global.

Tantangan memang harus dihadapi dan dijawab bukan dihindari maka membangun pabrik baru bagi INKP akan memberikan dorongan berkembangnya segmen industrial paper dalam industri kertas.

Membangun pabrik baru bagi INKP ingin memaksimalkan produksi mendekati 100% berpeluang menambah volume produksi. Hukum ekonomi berlaku yakni volume produksi dengan volume permintaan pasar atau kebutuhan akan kertas.

Bila melihat harga pulp & paper sekarang ini dalam kondisi baik meskipun ada tren mengalami penurunan akan tetapi hal itu bisa melonjak seiring dengan pasca pandemi Coronavirus yang kini aktivitas kembali pulih. Peningkatan kapasitas produksi akan menjadi katalis positif bagi industri pulp dan kertas.

Baca Juga :  Sebar Paku Dapat Menimbulkan Bahaya, Keamanan Lalu Lintas

Volume produksi dan volume kebutuhan kertas akan berkorelasi dengan nilai harga saham INKP dimana saat ini para pelaku pasar bisa buy saham INKP dengan target harga Rp9.900 per saham dan bisa harga pada level Rp7.700 per saham.

Berdasarkan informasi yang dihimpun penulis bahwa dalam membangun pabrik baru INKP akan memakai dana internal dan penggalangan dana yakni dengan asumsi 40% bersumber dari modal sendiri dan 60% berasal dari pinjaman bank jangka panjang, dan/atau lembaga keuangan lainnya, dan/atau penerbitan surat utang.

Hal yang pasti INKP membangun pabrik baru telah mendapat persetujuan para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) maka jadilah dimulai pembangunan pabrik baru itu yang targetnnya rampung pada tahun 2025. Semoga!

***

 

Bagikan :