Jakarta|EGINDO.co Memasuki tahun 2026, sejumlah instrumen investasi diperkirakan tetap menarik di tengah dinamika ekonomi global, mulai dari logam mulia hingga aset digital. Para analis menilai strategi diversifikasi lintas kelas aset menjadi pendekatan paling rasional untuk mengoptimalkan imbal hasil sekaligus menjaga tingkat risiko.
Logam mulia, khususnya emas, masih dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven) utama. Proyeksi imbal hasil emas berada di kisaran 8–15% per tahun, ditopang permintaan bank sentral dan ketidakpastian geopolitik. Sementara itu, perak dinilai memiliki ruang kenaikan lebih agresif—sekitar 10–20% per tahun—karena selain berfungsi sebagai aset investasi, juga dibutuhkan dalam industri teknologi dan energi terbarukan.
Aset kripto tetap menawarkan potensi keuntungan paling tinggi, meski dibarengi volatilitas tajam. Bitcoin dan Ethereum, dua kripto berkapitalisasi pasar terbesar, diproyeksikan mampu mencatat return di atas 30% per tahun dalam skenario pasar bullish. Namun, fluktuasi harga yang ekstrem menuntut investor memiliki toleransi risiko tinggi serta horizon investasi jangka panjang.
Di pasar ekuitas global, saham Amerika Serikat—terutama sektor teknologi berbasis kecerdasan buatan dan energi—diperkirakan masih menjadi motor pertumbuhan. Return tahunan diproyeksikan berada pada rentang 10–30%, sejalan dengan ekspansi inovasi digital dan transisi energi bersih.
Bagi investor yang mengedepankan stabilitas dan kemudahan akses, reksadana dan Exchange Traded Fund (ETF) menjadi alternatif menarik. Instrumen ini memungkinkan diversifikasi otomatis dengan potensi imbal hasil sekitar 8–20% per tahun, tergantung komposisi portofolio dan kondisi pasar.
Sejumlah platform investasi digital turut mempermudah masyarakat mengakses berbagai instrumen tersebut dalam satu aplikasi, termasuk untuk pembelian aset kripto, emas digital, maupun produk reksadana dan ETF secara praktis.
Mengutip laporan Bloomberg dan riset pasar dari CNBC International, tren alokasi aset global menunjukkan pergeseran ke portofolio campuran yang menyeimbangkan aset lindung nilai, ekuitas pertumbuhan, serta instrumen berbasis indeks guna meredam gejolak pasar.
Dengan demikian, pemilihan instrumen investasi pada 2026 sebaiknya disesuaikan dengan tujuan keuangan, profil risiko, serta jangka waktu penempatan dana—bukan semata mengejar potensi imbal hasil tertinggi. Diversifikasi dan disiplin investasi tetap menjadi fondasi utama dalam membangun portofolio yang tangguh. (Sn)