Program Inkubasi Bisnis APP Sinarmas, Pengrajin Mengubah Sampah Menjadi Harta Karun

Piring dari bahan bekas pelepah lontar
Piring dari bahan bekas pelepah lontar

Jakarta | EGINDO.com – Program Inkubasi Bisnis Asia Pulp and Paper (APP) Sinarmas buat para pengrajin, mengubah sampah menjadi harta karun. Program yang telah berjalan sejak tahun 2023 itu bagi para pengrajin yang mengikuti program Inkubasi Bisnis APP Sinarmas, dimana para pengrajin telah memperoleh pengetahuan dan wawasan tentang cara mengembangkan usahanya. Sejak saat itu dan kini usahanya telah menjadi sumber pendapatan yang signifikan bagi keluarganya.

Sebelumnya, pelepah lontar bekas adalah tangkai atau bagian pangkal dari daun pohon lontar (siwalan/ental) (Borassus flabellifer) yang sudah tua, kering, rontok secara alami menjadi sampah. Bagian ini sering kali dibuang atau dibakar oleh masyarakat.

Kemudian pelepah lontar dimanfaatkan untuk didaur ulang atau digunakan kembali sebagai bahan baku untuk berbagai produk, antara lain bahan kerajinan: Serat dari pelepah lontar dapat digunakan sebagai bahan anyaman untuk membuat berbagai produk, seperti tas, topi, bakul, atau tempat penyimpanan tradisional.

Menurut pihak APP Sinarmas, tentang 3R — Reduce (Kurangi), Reuse (Gunakan Kembali), dan Recycle (Daur Ulang) — sudah menjadi mantra yang familiar dan tertanam kuat dalam kehidupan perusahaan.

Dari pelepah lontar bekas, bagian pangkal dari daun pohon lontar jadi bermanfaat ditangan pengrajin

Seiring semakin banyak orang yang ingin menjalani hidup yang lebih berkelanjutan, salah satu fokusnya adalah pengelolaan limbah. Meskipun ada banyak cara untuk mengelola limbah, beberapa individu kreatif telah mengambil langkah lebih jauh, memanfaatkan limbah dan menggunakannya dalam bisnis mereka. Apa yang dulunya dibuang sebagai limbah kini menawarkan peluang yang menjanjikan untuk melindungi lingkungan dan menghasilkan pendapatan.

Beberapa kisah sukses dari Program Inkubasi Bisnis APP Sinarmas. Lenirawati Susila Fitri, pemilik usaha kerajinan tangan “Pirlisae”, memperoleh penghasilan yang menguntungkan dengan mengumpulkan pelepah lontar bekas dan mengubahnya menjadi piring dan kerajinan tangan.

Lenirawati menemukan minatnya dalam membuat piring dari pelepah lontar pada tahun 2014 melalui kursus singkat tiga hari dan memperoleh keterampilan barunya hanya dalam 2 jam. Sejak saat itu, ia telah mengembangkan usahanya sendiri. Dia menghasilkan sekitar Rp3-4 juta (US$200-260) per bulan. Menurut perkiraan Lenirawati hal itu sangat menguntungkan bagi dirinya dan keluarganya, mengingat rendahnya harga bahan baku yang dibutuhkan untuk kerajinan tersebut. “Lempengnya dijual dengan harga Rp5.000 hingga Rp10.000 (US$0,35-0,70) per karung,” ujarnya.

Produk-produk unik ini populer di kalangan reseller yang memiliki pembeli di seluruh Indonesia, dan keahlian Lenirawati sangat diminati karena ia diminta untuk menunjukkan keahliannya di kelas seni dan kerajinan di sekolah setempat.

Lenirawati bukan satu-satunya yang memiliki kejelian dalam mencari “harta karun”. Ada Mariana, pendiri Liberina—sebuah usaha kecil yang berspesialisasi dalam membuat camilan dan kue lezat—secara kreatif memanfaatkan kembali ampas kopi. Ia menggabungkan ampas kopi menjadi dodol, memperkenalkan suguhan unik dan inovatif kepada pelanggannya.

Terinspirasi dari resep dodol ibunya, permen tradisional dari aren, Mariana memulai perjalanan kulinernya untuk menuangkan kekayaan cita rasa daerahnya ke dalam kreasinya, termasuk nanas, aren, dan kopi. Secara khusus, ia memutuskan untuk memberikan penekanan khusus pada keunikan kopi. Berbekal ambisi, ia bergabung dengan Program Inkubasi Bisnis APP Sinarmas untuk memamerkan produk-produknya. Meskipun Mariana menghadapi beberapa tantangan selama program empat bulan tersebut, ia tetap tegar dan fokus mengembangkan kreasi uniknya. Dodol buatannya memulai debutnya di toko-toko suvenir dan bazar universitas, dan penambahan kopi Liberika yang belum pernah terjadi sebelumnya ke dalam dodol tradisional membuatnya memiliki banyak pengikut setia.

Seperti kata pepatah, sampah seseorang bisa menjadi harta karun bagi orang lain. Lenirawati dan Mariana adalah penggerak perubahan di bidang pengelolaan sampah, dan kisah mereka menjadi bukti kekuatan inovasi dan kewirausahaan dalam mendorong perubahan positif. Dengan dedikasi dan kreativitas yang tak tergoyahkan, mereka tidak hanya mengubah sampah menjadi komoditas berharga, tetapi juga mendorong orang lain untuk memiliki perspektif berbeda tentang sampah.@

App/fd/timEGINDO.com

Scroll to Top