Prof. Dr. Tukirin Apresiasi APP Sinarmas Konservasi Ramin

APP Sinarmas
APP Sinarmas

Jakarta | EGINDO.co – Pohon Ramin merupakan salah satu spesies endemik Indonesia yang menjadi rumah bagi beragam jenis fauna pada lahan gambut untuk mencari makan, bersarang dan berlindung. “Dibutuhkan studi lebih lanjut tentang spesies Ramin, misalnya informasi biologis Ramin secara rinci dan cara menghasilkan buah Ramin dengan baik, sehingga pelestarian varietas genetik dan adaptasi evolusi spesies tersebut di masa depan lebih terjamin. Pasalnya, masih banyak yang belum diketahui tentang Ramin,” ujar Peneliti Independen Ramin Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo, yang juga merupakan ketua Forum Pohon Langka Indonesia (FPLI) dalam keterangan tertulisnya kemarin.

Dijelaskannya, Ramin masuk ke daftar spesies yang terancam punah dalam Alinea ke-2 Daftar Merah yang dirilis oleh Organisasi International untuk Konservasi Alam, International Union for Conservation of Nature (IUCN), dan masuk Appendix II pada Konvensi Perdagangan Internasional Tumbuhan dan Satwa Liar Spesies Terancam (CITES) sejak tahun 2005, yang artinya terdapat pengaturan khusus dalam perdagangannya.

Sementara itu APP Sinarmas, melalui upaya konservasi genetik Ramin yang konsisten dan terdepan, baik secara mikro dan makro, telah berhasil mendorong upaya keberlangsungan Ramin. “Keberadaan spesies Ramin merupakan tolak ukur kesehatan konservasi di lahan gambut,” kata peneliti BBPBPTH-KLHK Dr. Ir. Asri Insiana Putri, MP.

Program kemitraan dalam konservasi Ramin ini diluncurkan pada tahun 2012 di provinsi Riau dan mencakup area awal seluas 20 hektar di kawasan konservasi hutan produksi milik perusahaan. Pada tahun pertama, kegiatan difokuskan pada identifikasi penyebaran, pengumpulan material genetik dari Provinsi, Riau, Jambi, Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah, serta pengembangan teknik perbanyakan Ramin baik melalui stek pucuk maupun kultur jaringan.

Kelengkapan koleksi genetika Ramin yang bisa ditelusuri milik R&D APP Sinarmas terbukti mendukung upaya konservasi spesies Ramin. “Hasil stek pucuk yang ditanam di lapangan dengan keragaman genetik yang tinggi membantu kelestarian Ramin. Hal ini penting dalam upaya konservasi, karena variasi genetik yang rendah dapat menurunkan tingkat ketahanan spesies,” kata Prof. Dr. Tukirin Partomihardjo.

Setelah lebih dari 7 tahun penelitian, tim peneliti BBPBPTH-KLHK dan APP Sinar Mas kini telah berhasil menumbuhkan perakaran tunas Ramin melalui teknik kultur jaringan. Meskipun kemajuan ini masih berada di tingkat laboratorium, tahap ini adalah yang paling maju yang telah dicapai dalam penelitian kultur jaringan Ramin di tingkat global. Bibit Ramin di fasilitas pembibitan, yang merupakan hasil dari perbanyakan makro dan pengumpulan dari Cagar Biosfer Giam Siak Kecil, kini digunakan untuk kegiatan restorasi hutan gambut dan repopulasi di kawasan lindung dalam area konsesi pemasok kayu APP Sinarmas.

Bibit-bibit ini telah melalui proses pendataan dan perawatan yang ketat untuk memastikan proses yang terstandarisasi. Contohnya, PT Sekato Pratama Makmur pada awal Desember 2020 telah mendapatkan sertifikat sumber benih tanaman hutan Ramin dari Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Riau, sebagai pemenuhan syarat sumber benih tanaman dengan tegakan benih teridentifikasi.

Ramin menjadi spesies yang harus dilindungi karena tergolong dalam kategori pohon kayu ringan dengan harga jual yang tinggi dan diincar pasar internasional untuk produksi furnitur. APP Sinar Mas terus memperkuat komitmennya. “Keberhasilan yang telah kami capai sejauh ini telah membuka harapan dalam langkah konservasi spesies Ramin. Hingga pertengahan tahun 2020, telah tersedia lebih dari 8.500 bibit dan stek Ramin di persemaian, sekitar 6.500 di antaranya siap [email protected]

Bs/fd/TimEGINDO.co