Jakarta|EGINDO.co Rantai pasok industri pertambangan nasional kini berada dalam fase kritis. PT Freeport Indonesia (PTFI) dilaporkan masih berjuang menghadapi tekanan operasional di tambang Grasberg menyusul dampak berkepanjangan dari insiden mud rush (longsoran lumpur) yang terjadi pada September 2025 lalu.
Kondisi ini tidak hanya menekan neraca keuangan perusahaan, tetapi juga mulai memicu efek domino yang mengancam stabilitas ekonomi makro dan agenda hilirisasi nasional.
Performa Operasional yang Mengkhawatirkan
Berdasarkan laporan terkini, kinerja PTFI mengalami koreksi yang sangat tajam. Produksi tembaga tercatat anjlok hingga 67,90 persen menjadi hanya 95 juta pound. Penurunan ini sejalan dengan volume penjualan yang merosot ke angka 82 juta pound dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
Keterpurukan ini disebabkan oleh kapasitas tambang bawah tanah yang masih terbatas. Selain itu, proses percepatan produksi (ramp-up) mengalami penundaan serius akibat adanya modifikasi pada infrastruktur tambang. Para analis memprediksi operasional baru akan menyentuh 65 persen dari kapasitas normal pada paruh kedua tahun 2026, dengan target pemulihan total yang baru mungkin terealisasi pada penghujung tahun 2027.
Ancaman Terhadap Hilirisasi dan Penerimaan Negara
Kelumpuhan sebagian operasional di Grasberg berdampak langsung pada fasilitas pengolahan di hilir, terutama smelter di Gresik. Kurangnya pasokan konsentrat dari hulu memaksa fasilitas pengolahan tersebut beroperasi jauh di bawah kapasitas idealnya. Kondisi ini dikhawatirkan akan meningkatkan ketergantungan industri domestik terhadap bahan baku impor.
“Smelter tersebut mengalami kekurangan suplai bahan baku. Otomatis produk yang dihasilkannya juga menurun drastis,” ujar pengamat ekonomi, Rizal, pada Senin (27/4/2026).
Selain mengancam kedaulatan industri, situasi ini juga berdampak signifikan pada aspek fiskal. Penurunan volume penjualan secara otomatis memangkas kontribusi perusahaan terhadap kas negara, baik melalui setoran pajak, royalti, maupun Dana Bagi Hasil (DBH) untuk daerah. Lebih jauh, sektor pendukung seperti logistik dan kontraktor tambang kini mulai merasakan dampak perlambatan aktivitas ekonomi di area operasional Freeport.
Strategi Mitigasi: Diversifikasi Pasokan
Melihat kerentanan industri nasional terhadap gangguan di satu titik produksi utama, para ahli mendesak perlunya langkah mitigasi yang konkret. Rekomendasi utama yang muncul adalah penguatan diversifikasi pasokan dari tambang-tambang lain di Indonesia.
Langkah ini dianggap krusial agar industri hilir nasional tidak bergantung sepenuhnya pada satu produsen besar. Dengan memperluas sumber bahan baku, diharapkan stabilitas neraca ekspor dan ketahanan pasokan domestik dapat tetap terjaga di tengah fluktuasi operasional tambang skala besar. (Sn)