Jakarta | EGINDO.com – Sustainability dengan cepat bergeser dari sekadar jargon marketing menjadi prioritas membentuk inovasi dan investasi di industri kemasan secara global. Seiring regulator memperketat aturan dan konsumen semakin memilih produk yang bertanggung jawab terhadap lingkungan, perusahaan pun mempercepat transisi ke material dan sistem yang terbukti mampu menurunkan dampak lingkungan.
Berdasarkan data market sizing industri, pasar global sustainable packaging diperkirakan bernilai sekitar USD 313,7 miliar pada tahun 2025. Pertumbuhan ini didorong oleh semakin luasnya adopsi material circular. Regulasi global yang makin ketat terkait waste dan plastic. Komitmen korporasi terhadap pengurangan karbon dan peningkatan recyclability. Kesediaan konsumen untuk beralih ke brand dengan eco-friendly packaging. Material berbasis paper & paperboard saat ini menjadi salah satu kategori terbesar dan dengan pertumbuhan tercepat, berkat sifatnya yang recyclable, berbasis serat terbarukan, serta meningkatnya larangan plastik sekali pakai.
Dalam periode 2025 hingga 2034, pasar diproyeksikan tumbuh dengan CAGR of 6,6 persen, mencapai USD 557,6 miliar pada 2034. Pertumbuhan kuat di Asia Pacific, dipimpin oleh China, India, dan Indonesia.
Meningkatnya permintaan dari e-commerce dan food delivery. Regulasi wajib recycled content di Uni Eropa. Target korporasi untuk mengurangi penggunaan virgin plastic. Peningkatan investasi pada material bio-based dan fiber-based. Paper & board, compostable biopolymers, serta lightweight flexible packaging diidentifikasi sebagai kontributor utama dalam siklus pertumbuhan satu dekade ke depan.
Konsumen modern semakin sadar lingkungan dan cenderung memilih brand yang menggunakan kemasan ramah lingkungan. Bahkan, banyak yang bersedia membayar lebih untuk produk yang eco-friendly.
Wilayah seperti Uni Eropa, AS, dan Asia menerapkan regulasi yang semakin ketat, termasuk Extended Producer Responsibility (EPR), pajak plastik, serta standar wajib recyclability. Kepatuhan kini menjadi prioritas strategis bagi brand.
Perusahaan tidak lagi bisa mengandalkan klaim hijau yang umum. Mereka dituntut menghadirkan bukti kinerja lingkungan yang terukur dan berbasis data. Tools seperti Life Cycle Assessment (LCA) kini menjadi elemen penting dalam pengambilan keputusan kemasan dan komunikasi yang transparan.
Strategi sustainable packaging yang komprehensif mengevaluasi berbagai metrik lingkungan untuk memastikan bahwa perbaikan di satu area tidak memindahkan dampak lingkungan ke area lain. Indikator utama meliputi Carbon footprint: Emisi dari bahan baku hingga end-of-life. Energy use: Ketergantungan pada bahan bakar fosil vs energi terbarukan. Water consumption: Intensitas penggunaan air dan dampaknya terhadap ekosistem. Material circularity: Recyclability, compostability, dan kandungan terbarukan. End-of-life outcomes: Tingkat recycling, recovery, incineration, atau landfill. Evaluasi metrik ini memastikan kemasan tetap fungsional sekaligus ramah lingkungan sepanjang lifecycle-nya.
Asal material, seperti serat terbarukan, biodegradable polymers, recycled content, atau plastik berbasis fosil, memiliki dampak lingkungan yang berbeda-beda. Penggunaan energi, emisi, bahan kimia, serta sampah selama proses produksi sangat menentukan profil sustainability sebuah kemasan.
Kemasan yang ringan membantu menurunkan emisi transportasi serta mengurangi dampak keseluruhan pada supply chain. Meski dampaknya relatif rendah, fase penggunaan tetap harus memastikan durabilitas, barrier performance, dan keamanan makanan.
Pengelolaan Akhir Masa Pakai (End-of-Life). Recyclability, compostability, serta sistem recovery menentukan bagaimana material dapat kembali masuk ke sistem ekonomi sirkular. Identifikasi fokus utama, apakah mengurangi carbon footprint, menurunkan penggunaan plastik, meningkatkan recyclability, atau bersiap menghadapi regulasi di masa depan.
Analisis perjalanan lengkap dari bahan baku hingga pembuangan untuk menemukan tahap dengan dampak terbesar. Fokus pada metrik yang actionable seperti carbon footprint, water usage, dan recyclability. Setelah dasarnya terbentuk, lakukan perbaikan terarah. Mulai dari desain ulang kemasan, pergantian material, perbaikan disposal instruction, hingga efisiensi supply chain. Dengan mengadopsi praktik sustainability yang terukur seperti Life Cycle Assessment (LCA) dan Environmental Product Declarations, brand dapat beralih dari sekadar klaim sustainability biasa menuju komunikasi yang lebih transparan dan berbasis sains. Pendekatan ini membantu memperkuat kepercayaan konsumen, mendukung kepatuhan terhadap regulasi, serta meningkatkan daya saing di pasar.
Sebagai produk paperboard dari Asia Pulp and Paper (APP) Group, Foopak dirancang agar sustainability berjalan seiring dengan performa, fungsionalitas, dan desain. Solusi recyclable dan renewable paperboard Foopak membantu brand mengurangi ketergantungan pada plastik, meningkatkan performa LCA, dan memenuhi berbagai standar regulasi global. Melalui barrier-coated paperboards serta panduan disposal yang jelas, Foopak mendukung brand dalam membangun sistem kemasan yang lebih ramah lingkungan dan future-ready.
Seiring meningkatnya ekspektasi terhadap sustainability, Foopak tetap berkomitmen membantu perusahaan menciptakan kemasan yang tidak hanya berkinerja optimal hari ini, tetapi juga bergantung jawab untuk masa depan. Bersama-sama, kita dapat mempercepat transisi menuju circular packaging economy yang sesungguhnya.@
Bs/fd/timEGINDO.com