Prakiraan Cuaca DKI Jakarta Didominasi Hujan, Aktivitas Ekonomi Berpotensi Tertahan

ilustrasi
ilustrasi

Jakarta|EGINDO.co Aktivitas perekonomian di wilayah DKI Jakarta diperkirakan menghadapi sejumlah tantangan seiring prakiraan cuaca yang didominasi hujan pada Kamis (12/2/2026). Intensitas hujan yang bervariasi, mulai dari hujan ringan hingga hujan petir, berpotensi memengaruhi mobilitas pekerja, distribusi logistik, hingga kinerja sektor ritel harian.

Berdasarkan prakiraan cuaca kabupaten/kota di Provinsi DKI Jakarta, hujan terjadi hampir merata di seluruh wilayah dengan suhu udara relatif stabil di kisaran 24–30 derajat Celsius dan tingkat kelembapan tinggi antara 65–91%.

Wilayah Administrasi Kepulauan Seribu diprakirakan mengalami hujan petir dengan suhu 25–27 °C dan kelembapan 80–88%. Kondisi ini berpotensi mengganggu aktivitas transportasi laut, pariwisata bahari, serta distribusi logistik antarpulau.

Sementara itu, Kota Jakarta Pusat dan Jakarta Utara diperkirakan diguyur hujan ringan dengan suhu masing-masing 25–30 °C dan 25–29 °C. Meski relatif ringan, hujan tetap berisiko menimbulkan perlambatan lalu lintas di kawasan pusat bisnis dan pelabuhan, yang berdampak pada aktivitas perkantoran serta bongkar muat barang.

Adapun Jakarta Barat dan Jakarta Selatan diprakirakan mengalami hujan sedang dengan suhu 24–30 °C dan kelembapan hingga 90% lebih. Intensitas hujan yang lebih tinggi di dua wilayah ini berpotensi meningkatkan genangan di titik rawan, sehingga dapat menekan produktivitas sektor UMKM, perdagangan harian, serta jasa transportasi daring.

Di Jakarta Timur, hujan ringan diperkirakan turun dengan suhu 24–30 °C dan kelembapan 67–90%. Wilayah yang menjadi salah satu kantong kawasan industri dan pergudangan ini tetap perlu mewaspadai hambatan distribusi darat, terutama pada jam sibuk.

Cuaca hujan umumnya berkorelasi dengan:

  • Penurunan kunjungan ritel offline, khususnya pusat perbelanjaan non-primer.

  • Kenaikan permintaan transportasi online dan layanan antar makanan.

  • Potensi keterlambatan logistik di pelabuhan dan gudang terbuka.

  • Gangguan proyek konstruksi akibat curah hujan dan kelembapan tinggi.

Namun di sisi lain, kondisi ini dapat mendorong pertumbuhan pada sektor tertentu seperti e-commerce, layanan pesan antar, serta penjualan produk kebutuhan rumah tangga.

Pelaku usaha dan logistik disarankan untuk:

  • Mengantisipasi keterlambatan distribusi.

  • Menyesuaikan jadwal pengiriman.

  • Memperkuat kanal penjualan digital.

  • Menyiapkan mitigasi cuaca pada rantai pasok.

Dengan curah hujan yang masih berpotensi tinggi, stabilitas operasional bisnis di Jakarta sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur, manajemen distribusi, serta adaptasi layanan berbasis digital. (Sn)

Scroll to Top