Jakarta|EGINDO.co Prabowo Subianto menginisiasi pertemuan silaturahmi dan buka puasa bersama dengan para mantan Presiden Republik Indonesia di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (3/3/2026) malam. Undangan tersebut ditujukan kepada Presiden ke-7 RI Joko Widodo, Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri, serta Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Langkah ini dipandang bukan sekadar agenda keagamaan, melainkan juga memiliki dimensi ekonomi dan politik yang strategis. Stabilitas elite nasional kerap menjadi fondasi penting dalam menjaga kepercayaan pasar, terutama di tengah dinamika global yang masih dibayangi ketidakpastian geopolitik dan perlambatan ekonomi sejumlah negara mitra dagang.
Ajudan Presiden ke-7 RI memastikan kehadiran Joko Widodo dalam agenda tersebut. Ia menyebutkan, Jokowi berpeluang hadir lebih awal dari jadwal resmi yang tercantum pukul 19.30 WIB. Sementara itu, Sekretaris Jenderal Partai Demokrat menyatakan bahwa SBY akan memenuhi undangan apabila telah diterima secara resmi.
Sejumlah pengamat menilai, pertemuan lintas kepemimpinan ini berpotensi mengirimkan sinyal positif bagi dunia usaha dan investor. Konsolidasi nasional di level tertinggi dinilai mampu meredam spekulasi politik sekaligus memperkuat persepsi kesinambungan kebijakan ekonomi.
Seperti diberitakan oleh Bisnis Indonesia, hingga kini belum ada penjelasan resmi dari pihak Istana terkait format acara, apakah terbatas pada buka puasa bersama atau turut diisi diskusi kebangsaan. Sementara itu, sejumlah laporan media arus utama seperti Kompas.com menyoroti pentingnya momentum Ramadan sebagai ruang mempererat kohesi nasional.
Di tengah agenda pemerintahan yang fokus pada penguatan investasi, hilirisasi industri, serta pengendalian inflasi, pertemuan ini dinilai berpotensi memperkuat narasi stabilitas dan keberlanjutan kebijakan ekonomi Indonesia ke depan. (Sn)