Singapura | EGINDO.co – Tantangan ekonomi dapat memperdalam perpecahan sosial dan rasial, kata Perdana Menteri Lawrence Wong pada hari Sabtu (12 September).
Singapura tidak kebal terhadap tantangan-tantangan ini, ia memperingatkan, seraya menyoroti komentar-komentar rasis yang muncul secara daring baru-baru ini saat investasi di India dibahas.
Pernyataan Wong, yang disampaikan dalam acara makan malam peringatan ke-85 Singapore Kadayanallur Muslim League (SKML), muncul seminggu setelah Menteri Dalam Negeri K Shanmugam mengatakan polisi sedang menyelidiki komentar daring yang bersifat rasis dan xenofobik—yang disebutnya “memalukan”—terkait investasi Singapore Airlines (SIA) di Air India, serta bencana Nepal-Tibet.
Polisi telah mengidentifikasi dan memeriksa lima orang terkait komentar daring mengenai kedua masalah tersebut. Penyelidikan masih berlangsung.
Meskipun Singapura pada umumnya harmonis dan stabil, Bapak Wong mengatakan bahwa masyarakat mungkin masih membuat batasan antara orang asing dan warga Singapura, serta antara warga Singapura kelahiran lokal dan warga naturalisasi, juga berdasarkan garis ras dan agama.
“Tantangan-tantangan ini nyata,” ujarnya.
Wong mengatakan masyarakat di seluruh dunia menjadi semakin terfragmentasi, terpecah, dan terpolarisasi.
Hal ini sebagian disebabkan oleh tantangan ekonomi, katanya. Tidak semua orang mencapai hasil yang sama, dan mereka yang tidak seberuntung itu mungkin merasa kecewa dan frustrasi.
Namun, tantangan ini melampaui masalah ekonomi ketika persoalan-persoalan tersebut memengaruhi rasa identitas, rasa memiliki, dan persepsi mengenai ketidakadilan, ujarnya.
“Saat itulah perpecahan benar-benar mulai mengakar, dan orang-orang mulai membangun tembok pemisah—kita versus mereka,” kata Bapak Wong.
Membangun Kepercayaan dan Jembatan
Wong mengatakan pemerintah akan terus memperbaiki kebijakan untuk mengatasi kekhawatiran mengenai tekanan biaya dan lapangan kerja, serta memastikan setiap warga Singapura mendapatkan bagian dari kemajuan bangsa.
Pada saat yang sama, Singapura harus terus berupaya menjaga hubungan dan memperkuat ikatan kepercayaan yang menyatukan masyarakat, ujarnya.
Kebijakan pemerintah dapat membantu menciptakan kondisi bagi kohesi sosial, namun pada akhirnya, kohesi tersebut dibangun oleh masyarakat itu sendiri, kata Wong.
“Hal ini bergantung pada keyakinan seluruh komunitas kita terhadap identitas mereka masing-masing, dan pada saat yang sama, kesediaan mereka untuk menjalin hubungan, membangun jembatan, serta menumbuhkan rasa saling percaya satu sama lain,” ujarnya. Wong mengatakan bahwa Singapura telah berupaya secara sadar untuk membangun masyarakat yang majemuk secara ras dan agama, di mana setiap komunitas memiliki tempatnya sendiri serta dapat menjalankan keyakinan, menggunakan bahasa, dan merayakan budaya serta tradisi mereka.
Pada saat yang sama, ruang publik dan pengalaman bersama di sekolah, lingkungan tempat tinggal, tempat kerja, dan program Layanan Nasional (National Service) memungkinkan warga Singapura dari berbagai latar belakang untuk berbaur, bersosialisasi, dan menjalin persahabatan, ujarnya.
Peran SKML Sebagai Jembatan
SKML dapat memainkan peran penting dalam memperkuat hubungan antarberbagai organisasi India dan menjadi jembatan antara komunitas India dan Muslim di Singapura, kata Bapak Wong.
Ia menyoroti sebuah inisiatif baru yang dipimpin oleh Menteri Negara Dinesh Vasu Dash untuk memperkuat hubungan antarorganisasi India. Bapak Wong menambahkan bahwa SKML juga dapat berperan dalam inisiatif M3+.
Bapak Wong mengatakan bahwa SKML tetap berakar kuat pada komunitas Muslim India sembari memperluas kemitraannya dengan organisasi-organisasi seperti MUIS, MENDAKI, dan SINDA.
Kemitraan-kemitraan ini telah menjawab kebutuhan praktis, termasuk melalui Forum Pemimpin Komunitas (Community Leaders Forum) yang diselenggarakan Mendaki mengenai literasi digital dan kesadaran akan penipuan.
SKML juga telah bekerja sama dengan para pemangku kepentingan untuk mengembangkan sumber daya manusia dan kepemimpinan melalui keterlibatannya dengan Indian Muslim Professionals Network, serta untuk melestarikan dan membagikan sejarah komunitas tersebut, ujar Bapak Wong.
Memperluas Lingkup Kebersamaan
Wong mengatakan bahwa perjalanan SKML mencerminkan kisah Singapura yang lebih luas, di mana rasa memiliki masyarakat telah meluas dari generasi ke generasi.
Pada masa-masa awal Singapura, masyarakat mengandalkan orang-orang terdekat mereka dan berkelompok berdasarkan asal daerah, kekerabatan, bahasa, ras, atau agama, ujarnya.
Namun, seiring berjalannya waktu dan menguatnya akar kehidupan mereka, orang-orang dari berbagai latar belakang menjadi tetangga, teman sekolah, rekan kerja, dan sahabat. Mereka pun mengembangkan rasa memiliki yang lebih luas—tidak hanya terhadap komunitas masing-masing, tetapi juga terhadap Singapura dan satu sama lain sebagai sesama warga Singapura.
Wong mengatakan bahwa SKML juga telah memperluas cakupan “kelompok kita” hingga melampaui komunitas Muslim India, namun tetap berakar pada komunitas tersebut dan terus melayaninya.
“Dalam banyak hal, inilah kisah Singapura kita. Kita selalu menjaga ‘orang-orang kita sendiri’. Namun, kita juga telah memperluas lingkaran siapa yang kita anggap sebagai bagian dari diri kita sendiri,” ujarnya.
“Golongan kita sendiri” tidak lagi berarti mereka yang berasal dari keluarga, bahasa, atau keyakinan yang sama, tambahnya.
“Golongan kita sendiri berarti warga Singapura, apa pun ras, bahasa, atau agamanya,” ujar Wong.
“Sebab, terlepas dari perbedaan asal-usul dan latar belakang, kita semua adalah warga Singapura, dan Singapura adalah negara serta rumah kita.”
Sumber : CNA/SL