Jakarta|EGINDO.co PT PLN (Persero) terus mematangkan strategi transisi energi guna mencapai target Net Zero Emission (NZE) pada 2060. Salah satu opsi strategis yang kini menjadi sorotan utama adalah pemanfaatan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN), yang dinilai memiliki keunggulan signifikan dalam menekan emisi karbon secara drastis dibanding pembangkit berbasis fosil.
Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PLN, Edwin Nugraha Putra, mengungkapkan bahwa perbedaan intensitas emisi antara PLTN dan pembangkit energi fosil sangat mencolok. Menurutnya, emisi yang dihasilkan dari energi nuklir jauh lebih ramah lingkungan.
“Intensitas emisi Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara mencapai sekitar 1.000 gram CO2/kWh, sedangkan pembangkit berbahan bakar gas menghasilkan emisi sekitar 500 gram CO2/kWh. Sementara itu, kalau kita pakai PLTN, intensitas emisinya jauh lebih rendah, yakni sekitar 10–50 gram CO2/kWh,” papar Edwin dalam diskusi PLTN 2032, Kamis (5/11/2026).
Strategi Peta Lokasi: Mendekat ke Pusat Beban Listrik
Selain faktor keunggulan emisi, PLN juga memperhitungkan distribusi beban listrik nasional dalam memetakan lokasi pembangunan PLTN. Saat ini, konsentrasi kebutuhan listrik nasional masih didominasi oleh Pulau Jawa sebesar 70%, disusul Sumatra sebesar 15%, dan pulau-pulau lainnya sebesar 15%.
Edwin menegaskan bahwa untuk pembangkit listrik berkapasitas besar, efisiensi rantai pasok dan transmisi menjadi kunci utama. Pembangkit berskala besar idealnya dibangun berdekatan dengan pusat permintaan (demand) guna menghindari transmisi daya yang terlalu jauh.
“Kalau nanti kita membangun pembangkit yang besar, baiknya tentu ada dekat demand sehingga transportasinya tidak terlalu panjang,” kata Edwin.
Target 7 GW pada 2040
Dalam proyeksi pengembangan kapasitas nuklir nasional hingga 7 gigawatt (GW) pada 2040, PLN menyusun skenario kombinasi wilayah yang adaptif terhadap kebutuhan lokal:
-
Pulau Jawa: Diproyeksikan menjadi lokasi pembangunan PLTN skala besar untuk menopang beban listrik nasional yang paling dominan.
-
Sumatra & Kalimantan: Diproyeksikan untuk pembangunan PLTN skala kecil guna memenuhi kebutuhan daya setempat secara efektif.
Melalui integrasi intensitas emisi super-rendah dan penempatan lokasi yang presisi, PLN optimistis energi nuklir mampu menjadi pilar pendukung utama dalam mewujudkan ekosistem ketenagalistrikan Indonesia yang bersih dan berkelanjutan. (Sn)