Medan | EGINDO.com – Prangko adalah material culture, budaya, produk budaya. Prangko juga ternyata menjadi kebudayaan. Dalam prangko berbagai hal budaya dan kebudayaan ada, mulai dari makanan daerah, mau pakaian daerah, kesenian daerah dan bahkan puisi pun masuk di dalam prangko.
Hal itu dikatakan Menteri Kebudayaan Indonesia Dr. Fadli Zon, S.S., M.Sc. yang diwakili Tenaga Ahli Kementerian Kebudayaan RI, Drs. Mahpudi Sukirman MT pada pembukaan acara Pagelaran Budaya Sumatera Timur, Pameran Benda-benda Filateli Sumatera Timur, Jum’at (10/4/2026) di Binjai Super Mall (BSM) kota Binjai Sumatera Utara (Sumut)

Dikatakannya bahwa prangko sebagai produk budaya juga memiliki berdampak kepada kebudayaan. “Jadi bukan hanya merekam kebudayaan, akan tetapi juga melahirkan kebudayaan. Sekarang ini Perkumpulan Penggemar Filateli Indonesia (PFI) sedang mengembangkan sebuah pemahaman bahwa dari prangko bisa melahirkan kebudayaan,” katanya.
Dijelaskan Menteri Kebudayaan bahwa pada pencanangan Hari Filateli Nasional tanggal 29 Maret 2026 lalu di Yogyakarta yang merupakan Hari Ulang Tahun ke-104 Penggemar Filateli Indonesia itu prangko bisa direspon menjadi tarian, jadi bukan hanya saja prangko yang merekam tarian, tetapi juga bisa menjadi tarian.
Dikatakannya ada prangko Haiku di Jepang yang sering kali diterbitkan sebagai bentuk penghormatan terhadap sastra tradisional dan para penyair besar Jepang. Prangko-prangko itu juga biasanya menampilkan ilustrasi yang berkaitan dengan isi puisi atau potret para tokoh haiku legendaris.

Selanjutnya Menteri Kebudayaan mengapresiasi Pagelaran Budaya Sumatera Timur, Pameran Benda-benda Filateli Sumatera Timur yang dilaksanakan di kota Binjai Sumatera Utara yang mana Perkumpulan Penggemar Filateli Indonesia (PFI) Sumut berhasil memenangkan atau meraih Dana Indonesia Raya dari Kementerian Kebudayaan yang melihat bahwa pagelaran budaya Sumatera Timur dan Pameran Prangko Sumatera Timur sebenarnya adalah respon yang baik dari para filatelis terhadap prangko yang mereka miliki sehingga melahirkan pameran.
Oleh karena itu, kata Menteri Kebudayaan, pihalnya ingin terus mendorong agar memanfaatkan prangko sebagai inspirasi kebudayaan. “Kita berharap adanya prangko-prangko yang ada kaitannya dengan Sumatera Timur dipamerkan dapat memotivasi kita sehingga pemahaman kebudayaan semakin baik,” katanya.

Sebelumnya Ketua PD Perkumpulan Penggemar Filateli Indonesia (PFI) Sumut, Drs. Syahniman, M.Sc melaporkan kegiatan Pagelaran Budaya, Pameran Benda-benda Filateli Sumatera Timur di kota Binjai dan mengatakan prangko-prangko terbitan dari Sumatera Utara sangat banyak dan beragam serta mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksanakan acara Pagelaran Budaya, Pameran Benda-benda Filateli Sumatera Timur di kota Binjai.
Ucapan terimakasih kepada Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Utara, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Kepala Kantor Pos Binjai, Kepala Kantor Pos Medan dan Kepala Kantor Pos Regional Sumatera Utara/Aceh.
Pagelaran budaya, Pameran benda-benda kebudayaan dan pameran benda-benda filateli Sumatera Timur di kota Binjai, Sumatera Utara pada 10 hingga 12 April 2026 katanya bertujuan untuk membangkitkan kembali budaya yang ada di Sumatera Timur yang saat ini mulai ditinggalkan seiring dengan budaya modern yang digandrungi kaula muda. Perlu ditampilkan, dipamerkan benda benda filateli Sumatera Timur agar masyarakat mengetahuinya.

Banyak masyarakat yang belum atau tidak mengetahui budaya Sumatera Timur, begitu juga dengan benda benda filateli yang ada di Sumatera Timur sehingga dengan dilakukannya Pagelaran budaya dan pameran benda filateli Sumatera Timur masyarakat menjadi mengetahuinya dan mencintainya. “Terimakasi kepada para guru, para dosen, akademisi dan para pelajar dan mahasiswa yang pada hari ini sudah datang bersama-sama di tempat acara pagelaran budaya dan benda-benda filateli Sumatera Timur di Mall kota Binjai ini,” kata Syahniman.
Pembukaan acara pagelaran budaya dan benda-benda filateli Sumatera Timur diawali dengan upacara nasional dan ditandai dengan pemukulan gong oleh Tenaga Ahli Kementerian Kebudayaan Indonesia, Drs. Mahpudi Sukirman, MT dan dilanjutkan dengan peninjauan pameran benda-benda filateli Sumatera Timur yang didampingi para undangan dan pengurus PD PFI Sumatera Utara Drs. Syahniman M.Si, Sekretaris PFI Sumatera Utara Agus Kirnanda, SE, M.Si, Bendahara Dra. Euis Juniwati Carkadi, H. Lukman Yanis dan lainnya.
Bidang Litbang/Humas PFI Sumatera Utara. Ir. Fadmin Malau mengatakan acara yang berlangsung selama tiga hari itu dimana dalam Pagelaran Budaya, Pamerkan Benda-Benda Filateli Sumatera Timur berlangsung dari hari Jum’at, Sabtu dan Minggu dengan menampilkan pameran benda-benda filateli dari Sumatera Timur dan pagelaran budaya dari Sumatera Timur pada hari Jum’at 10 April 2026 pembukaan oleh Menteri Kebudayaan Dr. Fadli Zon, M.Sc dilanjutkan dengan pagelaran Budaya Adat Karo, menampilkan adat budaya kearifan lokal upacara adat Ndilo Wari Udan yang secara harfiah berarti memanggil hari hujan. Upacara yang biasanya dilakukan saat musim kemarau panjang dan melibatkan tarian tradisional yang dikenal sebagai Tari Gundala-gundala.

Disamping itu juga ditampilkan Workshop pelatihan Tudung Karo dengan mengajarkan cara membuat motif dan menghias tudung. “Tudung atau penutup kepala khas suku Karo yang dikenal dengan Uis Gara memiliki teknik pembuatannya yang khas maka tujuan dari ditampilkan atau diadakan workshop untuk melestarikan budaya Karo kepada generasi muda,” kata Fadmin Malau.
Selanjutnya pada hari kedua, Sabtu 11 April 2026 ditampilkan Pagelaran Budaya Adat Simalungun dengan menampilkan upacara adat Rondang Bintang yaitu upacara adat untuk merayakan hasil panen dan juga ada maksud mencari jodoh antar pemuda pemudi yang pada saat upacara adat Rondang Bintang.
Sedangkan pada hari ketiga, Minggu 12 April 2026 yang merupakan hari penutupan pageralan dilaksanakan pagelaran Adat Budaya Melayu dengan melaksanakan lomba tari Serampang 12 tingkat pelajar dan Lomba Busana Adat Melayu tingkat pelajar.
Disamping itu juga digelar pementasan upacara adat Hempang Pintu. “Upacara adat hempang pintu merupakan bagian dari tradisi penikahan Melayu khususnya di daerah Deli Sumatera Utara. Upacara pernikahan yang menampilkan prosesi berbalas pantun antara pihak laki-laki dan perempuan di depan pintu masuk rumah pengantin perempuan yang dihadang dengan kain panjang dengan tujuan utamanya untuk menguji kesungguhan mempelai laki-laki,” kata Fadmin Malau menegaskan.@
M. Yasmin RM/timEGINDO.com