Petani Porang Menjerit, Pemerintah Jadikan Andalan Ekspor

Porang
Porang

Jakarta | EGINDO.co – Petani porang menjerit akan tetapi pemerintah menjadikan andalan komoditi yang digadang-gadang untuk andalan ekspor. Para petani porang menjerit karena saat ini harga porang anjlok.

Para petani porang Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur mengeluh dengan anjloknya harga porang. Harga anjlok kata para petani karena minimnya pabrik pengolahan porang. Kemudian produksi meningkat disebabkan petani ramai-ramai bertanam porang disebabkan pemerintah menjadikan sebagai komoditi ekspor.

Faktanya kata petani di Ponogoro itu harga anjlok dalam beberapa bulan terakhir ini. Para petani juga mengeluhkan karena pemerintah tidak memberikan bantuan kepada petani atau membantu untuk menampung produksi umbi hasil panen porang.

Mereka meminta pemerintah tidak hanya hadir saat porang tengah naik dan memberikan informasi bahwa porang menjadi andalan ekspor akan tetapi petani rugi karena harga anjlok akibat sedikit pabrik yang mengolah produksi petani.

Baca Juga :  Kantor Hukum FAS Beri Konsultasi Hukum Gratis Warga Rutan

Harapan petani porang, pemerintah harus membuat skema yang benar dan rincian tentang produksi porang di Jawa Timur. Pemerintah hadir menjembatani para petani atau pembudidaya porang dimana saat ini ekspor porang ke Cina terhambat. Alasannya porang dari Indonesia dinilai tidak memenuhi persyaratan berdasarkan undang-undang pangan cina.

Seharusnya Kementrian pertanian (Kementan) dan pemerintah provinsi memberikan bantuan menerbitkan lisensi assesmen sebagai jaminan keamanan porang produksi petani dan meningkatkan kualitas olahan yang ditanam petani.

Petani berharap harga porang dalam kondisi normal yang ada selama ini yakni harga umbi porang berkisar Rp7.000 hingga Rp8.500 per kilogram. Sementara saat ini turun drastis menjadi Rp4.000 hingga Rp5.000 per kilogram.@

Baca Juga :  Menjaga Mental Health, Mahasiswa Baru Masa Pencarian Jati Diri

Bs/TimEGINDO.co

 

Bagikan :
Scroll to Top