Pertamina Siapkan Investasi US$1,1 Miliar, Green Bio-Refinery Cilacap Ditargetkan Beroperasi 2029

Ilustrasi
Ilustrasi

Cilacap|EGINDO.co PT Pertamina Patra Niaga menyiapkan investasi sekitar US$1,1 miliar atau setara Rp19,8 triliun untuk membangun Green Bio-Refinery Cilacap. Proyek kilang bahan bakar ramah lingkungan tersebut ditargetkan memasuki tahap engineering, procurement, and construction (EPC) pada 2027 dan mulai beroperasi pada 2029.

Executive General Manager PT Pertamina Patra Niaga Kilang Cilacap, Hermawan Budiantoro, mengatakan fasilitas tersebut dirancang memiliki kapasitas produksi sekitar 860 kiloliter (KL) per hari atau sekitar 870 AVO KL per day.

“Ini adalah rencana proyek Green Bio-Refinery Cilacap dengan kapasitas kira-kira saat ini 860 KL per day atau 870 AVO KL per day,” ujar Hermawan dalam Media Gathering Pertamax Journey Cilacap–Yogyakarta di Cilacap, Jawa Tengah, Kamis (10/9/2026).

Menurut Hermawan, pengembangan proyek telah dimulai sejak 2025 melalui tahapan engineering design. Proses tersebut meliputi penyusunan desain pembangunan hingga persiapan tender.

Pada 2026, Pertamina Patra Niaga memasuki tahap final investment decision (FID) sekaligus membuka penjajakan kerja sama dengan sejumlah calon mitra. Langkah ini dilakukan untuk menentukan mitra yang dinilai sesuai dalam mendukung pembangunan fasilitas tersebut.

Setelah FID dan proses pemilihan mitra rampung, proyek ditargetkan mulai masuk tahap EPC pada 2027. Selanjutnya, Green Bio-Refinery Cilacap diharapkan dapat on-stream pada 2029.

“Harapannya nanti on-stream-nya di tahun 2029. Dengan nilai total investasi, estimasinya kira-kira mencapai sekitar rata-rata 1,1 billion USD,” kata Hermawan.

Kapasitas Produksi Green Fuel Naik Signifikan

Pembangunan Green Bio-Refinery Cilacap menjadi bagian dari upaya meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar ramah lingkungan. Hermawan menyebut kapasitas produksi saat ini masih berada di kisaran 200-an KL per hari, yang nantinya ditingkatkan menjadi sekitar 860 KL per hari.

Dengan peningkatan tersebut, fasilitas ini diharapkan mampu memperbesar pasokan bahan bakar ramah lingkungan sekaligus mendukung pengembangan ekosistem energi hijau di Indonesia.

Green Bio-Refinery Cilacap akan dibangun di atas lahan sekitar 17,5 hektare yang berada berdampingan dengan kompleks Kilang Cilacap. Fasilitas ini dikembangkan sebagai salah satu dedicated green refinery yang berfokus pada produksi bahan bakar ramah lingkungan dalam skala besar.

Untuk menunjang operasionalnya, fasilitas tersebut diperkirakan membutuhkan feedstock sekitar 311.000 ton per tahun. Bahan baku itu kemudian diproses di fasilitas biorefinery untuk menghasilkan produk sekitar 232.000 ton per tahun.

Manfaatkan Minyak Jelantah dan Bahan Nabati

Bahan baku yang akan digunakan antara lain minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) serta bahan baku nabati. Pemanfaatan waste feedstock menjadi salah satu elemen penting dalam konsep Green Bio-Refinery karena memungkinkan bahan yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah diolah kembali menjadi produk bernilai tambah.

“Nah ini, unit ini memanfaatkan bahan baku tadi ya yang jelantah atau nabati ya, yang ramah lingkungan,” ujar Hermawan.

Produk yang dihasilkan nantinya direncanakan untuk memenuhi kebutuhan bahan bakar di dua bandara internasional, yakni Bandara Internasional Soekarno-Hatta di Cengkareng dan bandara internasional di Denpasar, Bali.

Jika berjalan sesuai target, Green Bio-Refinery Cilacap tidak hanya meningkatkan kapasitas produksi bahan bakar ramah lingkungan, tetapi juga memperkuat pemanfaatan bahan baku berbasis limbah dan nabati dalam pengembangan energi yang lebih berkelanjutan di Indonesia. (Sn)

Scroll to Top