Jakarta|EGINDO.co Langkah nyata dalam memangkas emisi sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional kembali ditunjukkan oleh PT Pertamina Power Indonesia (Pertamina NRE). Anak usaha BUMN ini resmi merintis pengembangan rantai pasok biometanol terintegrasi memanfaatkan limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME).
Demi merealisasikan ekosistem hijau ini secara menyeluruh, Pertamina NRE mengikat kerja sama dengan tiga mitra strategis sekaligus melalui penandatanganan Joint Development Agreement (JDA), Heads of Agreement (HoA), dan Memorandum of Understanding (MoU) pada pertengahan Agustus 2026.
Direktur Utama Pertamina NRE, John Anis, menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor ini menjadi bukti komitmen perseroan dalam menghadirkan solusi energi bersih yang mencakup seluruh tahapan industri.
“Ini merupakan bukti konkret bahwa kami sedang membangun rantai nilai secara lengkap, mulai dari produksi bersama CRecTech, domestic offtake bersama Pertachem, hingga membuka jalur menuju pasar bahan bakar maritim internasional bersama PIMD,” ujar John dalam siaran persnya, Rabu (19/8/2026).
Inovasi Teknologi Pangkas Biaya Produksi 50%
Di ranah hulu, Pertamina NRE menggandeng perusahaan asal Singapura, CRecTech Pte. Ltd., untuk mendirikan pilot project konversi biogas menjadi biometanol di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sei Mangkei, Sumatera Utara. Pabrik percontohan ini diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 50 ton biometanol per tahun dengan memanfaatkan gas metana dari PLTBg Sei Mangkei.
Mengutip laporan energi dari media terkemuka seperti Kompas.com dan Bisnis.com, efisiensi proses menjadi kunci utama dalam proyek ini. Teknologi katalis terapan milik CRecTech mampu menyederhanakan proses konversi biogas menjadi metanol dari yang semula memerlukan empat tahap menjadi hanya dua tahap saja. Pangkasan proses ini berpotensi menekan operasional dan biaya produksi hingga separuhnya.
CEO CRecTech, Dr. Kang Hui Lim, optimistis bahwa sinergi antara keahlian teknologi dari pihaknya serta kekuatan infrastruktur dan pasar milik Pertamina akan mempercepat komersialisasi energi terbarukan ini.
Mengincar Pasar Domestik dan Industri Maritim Global
Pada sektor hilir, penyerapan produk akan ditopang oleh dua entitas:
Pasar Domestik (PT Pertamina Petrochemical Trading): Kerja sama ini difokuskan untuk menyiapkan skema penyerapan (offtake) skala panjang. Langkah ini sangat krusial mengingat konsumsi metanol di Indonesia saat ini berada di kisaran 2 juta ton per tahun, di mana mayoritas kebutuhan tersebut masih disokong oleh produk impor.
Pasar Internasional (Pertamina International Marketing & Distribution Pte. Ltd. / PIMD): PIMD bertugas memetakan ceruk pasar global, khususnya penyediaan biometanol sebagai bahan bakar ramah lingkungan bagi industri pelayaran (marine fuel/bunkering).
Selain memberikan nilai tambah finansial dari pengolahan limbah kelapa sawit, proyek ini efektif menangkap gas metana berbahaya sebelum terlepas ke udara. Inisiatif hijau ini diharapkan dapat menjadi pendorong utama pencapaian target Net Zero Emission (NZE) Indonesia pada tahun 2060 mendatang. (Sn)