Jakarta|EGINDO.co Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan komitmen pemerintah dalam memperkuat posisi perdagangan Indonesia di kancah global melalui penguatan pasar domestik dan perluasan akses ekspor. Strategi tersebut ditempuh dengan meningkatkan kualitas serta daya saing produk nasional agar mampu menahan laju barang impor sekaligus bersaing di pasar internasional.
Budi menilai, dinamika perdagangan global saat ini kian kompleks sehingga membutuhkan respons kebijakan yang adaptif. “Kondisi perdagangan saat ini menghadapi banyak dinamika. Pasar luar negeri memiliki banyak eskalasi tantangan yang harus kita hadapi,” ujar Budi dalam keterangan tertulisnya, dikutip Rabu, 4 Februari 2026. Karena itu, menurutnya, penguatan sektor dalam negeri menjadi fondasi penting untuk menjaga stabilitas dan kedaulatan pasar nasional.
Kementerian Perdagangan juga terus memperluas ruang pemasaran bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Upaya fasilitasi yang dilakukan menunjukkan hasil positif, tercermin dari komposisi produk di ritel modern yang kini sekitar 80 persen telah diisi oleh produk UMKM. Hal ini menandakan meningkatnya daya saing serta penerimaan pasar terhadap produk lokal.
Dari sisi konsumsi, pemerintah berhasil menggerakkan belanja nasional melalui berbagai program promosi sepanjang 2025. EPIC Sale mencatat nilai transaksi mendekati Rp55 triliun, sementara Harbolnas dan BINA Great Sale masing-masing membukukan Rp36,4 triliun. Capaian tersebut menjadi indikator kuat tingginya minat masyarakat terhadap produk dalam negeri.
Untuk memperluas pasar global, pemerintah telah menuntaskan lima perjanjian dagang strategis dengan sejumlah mitra, yakni Uni Eropa, Kanada, Peru, kawasan Eurasia, dan Tunisia. Perjanjian ini diharapkan membuka peluang ekspor yang lebih luas, termasuk bagi pelaku usaha menengah dan kecil.
Selain itu, program Desa BISA Ekspor terus diperkuat sebagai bagian dari pemberdayaan ekonomi berbasis wilayah. Hingga kini, sebanyak 741 desa telah dikurasi dan dinyatakan siap menembus pasar ekspor.
Sejumlah kalangan dunia usaha, sebagaimana disorot media seperti Antara dan Bisnis Indonesia, mengapresiasi langkah pemerintah dalam memperluas akses pasar dan membuka ruang dialog kebijakan. Upaya tersebut dinilai mampu mendorong pertumbuhan industri dan perdagangan nasional secara lebih inklusif dan berkelanjutan. (Sn)